DASAR-DASAR NORMATIF TENTANG AKHLAK TASAWUF

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

          Rasulullah dalam sebuah hadist diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam penyempurnaan akhlak tersebut, Rasulullah mengajak umatnya untuk mengingat dan mengetahui Sang Pencipta Allah SWT. Upaya dalam penyampaian ini melahirkan akhlak yang mulia sehingga ditiru oleh para pengikutnya. Hingga pada akhirnya masyarakat jahiliyah diubah menjadi masyarakat yang bermoral dan berakhlak mulia.

            Dalam penyampaian ajaran yang dikenalkan oleh Rasulullah, terdapat dasar-dasar dan ketetapan yang telah diberikan Allah sebagai penguat ajaran yang dibawa Rasul. Dasar-dasar ini dijadikan sumber rujukan dalam memutuskan perkara yang menyangkut agama.

            Dalam rangka untuk menjadi seorang hamba yang baik, maka kita seharusnya mengenal Allah lebih dalam daripada sebelumnya, lebih berusaha mendekat pada-Nya dan memohon ampun atas dosa yang telah kita lakukan. Upaya-upaya inilah yang disebut usaha bertasawuf. Lalu bagaimanakan bertasawuf yang benar itu? Tentu saja hal itu akan berkaitan dengan bagaimana kita bersikap dan bertingkah laku.

            Lalu, untuk apa kita harus bertasawuf? Apakah yang menjadi dasar atas tasawuf tersebut? Pertanyaan ini akan terjawab dalam makalah ini. Alquran dan hadist adalah dasar atas diperbolehkannya bertasawuf dalam islam.

 

DASAR-DASAR NORMATIF TENTANG AKHLAK TASAWWUF

A.    Pengertian Akhlak

            Menurut bahasa makna dari kata akhlaq adalah budi pekerti atau sopan santun.[1] Sedangkan menurut istilah, beberapa ulama mengartikan akhlak berbeda antara satu dengan yang lainnya.

            Menurut Ibn Maskawaih dalam kitabnya Tahdzib al Akhlak wa al-Tathir Al-Araaq, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.[2]

            Menurut al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum ad Din, pengertian akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran.[3]

            Menurut Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.[4]

            Dari beberapa pengertian yang telah dipaparkan oleh para ahli tersebut, kami mengambil kesimpulan bahwa makna dari akhlak adalah suatu sifat yang dimiliki seseorang yang menjadi suatu kebiasaan dan itu dilakukan secara spontan tanpa membutuhkan sebuah pemikiran.

B.     Pengertian Tasawuf

            Ada beberapa macam pengertian tasawuf. Tasawuf jika dilihat dari beberapa para ahli. Secara lughawi kata tasawuf memiliki beberapa makna yang berbeda bergantung pada asal katanya.

            Menurut Al Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah menulis pendapat-pendapat asal kata tasawuf adalah sebagai berikut[5]:

1. Berasal dari kata shuf (bulu domba atau wool).

              Jadi seseorang yang mengenakan kain wol dia diberi nama ber-tasawuf

2. Berasal dari kata ash-shuffah(serambi)Masjid Rasulullah SAW.

3. Berasal dari kata ash-shafa (kejernihan atau ketulusan).

4. Berasal dari kata shaff yang berarti barisan.

                        Adapun pengertian tasawuf berdasarkan istilah, para ahli juga mengemukakan pendapat-pendapat mereka. Antara pendapat satu dengan pendapat lainnya terdapat perbedaan.

                        Menurut al Junaidi, tasawuf ialah bahwa yang Haq adalah yang mematikan, dan Haq-lah yang menghidupkan[6]. Maksud dari pernyataan tersebut adalah tasawuf berkaitan langsung dengan Allah. Dialah Tuhan yang mematikan dan hanya Dialah yang menghidupkan. Hal itu berbeda lagi dengan pendapat dari Muhammad Ali al Qassab. Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud tasawuf adalah akhlak mulia yang timbul pada masa yang mulia dari seorang yang mulia di tengah-tengah kaumnya yang mulia[7]. Maksud dari al Qassab tersebut adalah tasawuf berawal dari munculnya sikap dari seseorang yang membuat kaumnya merasa kagum dan ingin meniru, sehingga dalam rentan waktu itu mengubah kaumnya menjadi mulia. Maka dari itu masa ini disebut juga masa mulia karena diisi dengan penuh akhlak mulia oleh orang-orang  yang hidup di masa tersebut.

                        Berbeda dengan definisi yang telah dipaparkan oleh sejumlah tokoh tersebut, Abu Hamzah memberikan ciri untuk orang yang benar-benar bertasawuf (sufi), yakni: berfakir setelah dia kaya, merendahkan diri setelah bermegah-megah, menyembunyikan diri setelah terkenal; dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megah setelah dia hina, dan tersohor setelah ia sembunyi.[8]

            Dari pengertian dan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud tasawuf adalah suatu sikap atau akhlak yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan diri terhadap Tuhannya dengan cara memerangi hawa nafsu untuk mencapai ridho Tuhannya. Ruang lingkup tasawuf mencakup urusan batiniah, yakni hati.

            Hati menurut Rasulullah terbagi menjadi empat macam, yaitu: hati yang tajam, hati yang bersih dari kotoran, hati yang didalamnya terdapat lampu yang menyinari hatinya dan hati yang terhijab.[9]

C.    Hubungan Akhlak dan Tasawuf

            Dalam meraih kesuksesan bertasawuf seseorang harus memiliki akhlak yang mulia. Ibadah sangat menonjol ketika berada di ruang lingkup tasawuf. Ibadah-ibadah tersebut antara lain: shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan yang lainnya dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal pelaksanaannya kita sebagai seorang hamba akan mengikuti apa yang telah Allah perintahkan. Salah satunya adalah berakhlakul karimah. Dengan begitu secara langsung menjadi sufi tidak akan bisa lepas dari upaya berakhlak mulia. Berakhlak mulia dalam arti mensifati diri sendiri dengan sifat Nabi yang tercermin dalam Alquran dan Hadist.

            Kaitan tasawuf menyangkup wilayah kerohanian lebih dalamnya. Tasawuf merupakan wujud kepedulian terhadap hati masing-masing. Dan akhlak adalah buah dari apa yang telah kita rasakan ketika bertasawuf.

D.    Sumber Tradisi Dalam Kehidupan Tasawuf

Ada beberapa tradisi pengamalan ajaran tasawuf yang bersumber dari beberapa ajaran, antara lain[10]:

1. Tradisi Agama Kristen

Berasal dari kebiasaan Nabi Isa yang berpuasa pada siang hari lalu beribadah pada malam hari dan juga berasal dari Maryam yang menjadi biarawati di bawah bimbingan Nabi Zakaria untuk menekuni ajaran spiritual. Unsur yang berpengaruh dari tradisi ini dalam ilmu tasawuf adalah sikap fakir.

2. Tradisi Hindu dan Budha

Ajaran hindu mengajarkan untuk mendorong manusia agar menyatukan jiwanya dengan dewa yang biasa disebut penyatuan atman dengan brahman. Dalam ajaran tasawuf hal ini disebut wihdatul wujud.

3. Pengaruh Pemikiran Filsafat Mistik Phytagoras

Phytagoras berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal, yang selalu ingin menempati surga, namun tidak akan bisa menempati surga bila terkotori oleh jasmani yang sangat menyayangi duniawi.[11]

4. Pengaruh Pemikiran Neo-Platonisme

Menurut Plotinus dalam teori emanasinya bahwa segala yang ada merupakan pancaran dari Dzat Yang Mahaesa dan sesuatu tersebut akan kembali lagi kepada-Nya. Karena itu disyaratkan agar mensucikan diri dari kotoran duniawi dengan cara meninggalkannya sehingga bisa bersatu dengan-Nya.[12]

Namun pada dasarnya tasawuf yang dimaksud tidak mengakar pada hal tersebut. Tasawuf adalah karya islami sendiri, hanya saja terdapat beberapa persamaan jika dilihat dari beberapa sudut dengan pengaruh-pengaruh diatas. Tasawuf sebenarnya berasal dari sebuah kebiasaan yang kemudian membudaya.

 E.     Dasar Tasawuf Dalam Alquran

            Kita telah mengetahui bahwa Alquran telah menjadi sumber hukum dalam agama islam. Oleh karena itu, dalam merumuskan sesuatu seperti ilmu atau hal yang menyangkut dengan tata cara keislaman, maka Alquran menjadi bahan paling utama yang dijadikan sebuah sumber. Dalam hal ini tasawuf juga menjadi materi yang harus dicari kebenarannya, yakni  melalui Alquran terlebih dahulu. Berikut ini beberapa ayat penguat dari Alquran yang dijadikan sumber tasawuf, antara lain:

1. QS. Ar-Ra’du: 28

Pada dasarnya tasawuf berpusat pada kegiatan rohaniyah, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, tasawuf tidak berkenaan dengan adab-adab lahiriah. Seorang hamba harus sebisa mungkin untuk selalu ingat (dzikir) pada Penciptanya. Pada ayat tersebut telah termuat bahwa yang bisa mengingat Penciptanya, maka hati mereka akan tentram.

2. QS. Al Isra’: 79

 Cara mengingat sang Pencipta dalam tasawuf juga bisa melalui sholat. Alquran juga telah memuat bahwa terdapat anjuran untuk sholat tahajud (lail) sebagai tambahan beribadah untuk semakin mendekatkan diri terhadap Allah.

 3. QS. Adz Dzariyat: 17-18

Mengingat Allah merupakan perbuatan yang harus senantiasa dilakukan. Tidak hanya kualitas saja, melainkan juga kuantitasnya dalam mengingat Allah. Ayat diatas telah memberikan gambaran bagaimana waktu yang tepat untuk berada lebih dekat dengan Allah, yakni pada saat akhir malam dan dengan cara memohon ampun atas perbuatan dosa mereka

.

4. QS. Fathir: 5

Bertasawuf juga mengajarkan agar kita tidak terlalu melihat kehidupan dunia. Dunia saat ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Dan yang lebih dipentingkan adalah kehidupan akhirat nantinya. Hal itu juga telah diungkapkan oleh Alquran pada surat An Nisa’.

5.QS. Al Maidah: 119

Tujuan bertasawuf adalah demi mencapai keridhaan Allah SWT semata. Apa yang dilakukannya, seperti beribadah, beramal sholeh dan upaya lainnya dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Jika seorang hamba melakukan ibadah atas keikhlasannya, maka Allah juga akan ridha terhadapnya.

 F.     Dasar Tasawuf Dalam Sunnah Rasulullah SAW

Riwayat telah menceritakan bahwa Nabi Muhammad setiap bulan Ramadhan berada di gua hira untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati serta hakikat kebenaran di tengah-tengah keramaian hidup[13]. Juga telah ditemukan sejumlah hadits yang memuat ajaran-ajaran tasawuf antara lain:

1. Dalam hadist Qudsi dikatakan bahwa Nabi Muhammd SAW bersabda: “ sesungguhnya Allah berkata: “Siapa yang memusuhi wali (hamba kekasih)-Ku maka Aku akan menyatakan perang kepadanya. Seorang hamba yangmendekatkan diri pada-Ku lebih aku cintai daripada apa yang aku wajibkan kepadanya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarnya atas apa yang sedang didengarkannya, menjadi penglihatanya atas apa yang dilihatnya, menjadi tangannya atas apa yang sedang digenggamnya, dan menjadi pejalannya atas perjalanan yang dilakukannya. Apabila dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya; dan apabila dia memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya” (HR. Bukhari Muslim)[14]

                  Rasulullah bersabda dalam hadist tersebut bahwa yang menjadi kekasih Allah adalah orang yang dekat dengan Allah, upaya mendekatkan dengan Allah adalah melalui jalan tasawuf. Jika dianalogkan, kekasih Allah adalah orang yang melakukan tasawuf (sufi). Dengan bertasawuf maka, kita akan mudah mengharapkan pengampunan dari Allah.

2. Rasulullah bersabda: “ Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu. (HR. Bukhari Muslim)[15]

                  Pada hadits tersebut, Rasulullah sangat menganjurkan bahwa amal ibadah yang kita lakukan harus dan hanya ditujukan untuk mengharap keridhaan Allah seolah-olah kita telah melihatnya. Hal itu juga merupakan tujuan dari tasawuf yang menganjurkan agar kita beribadah hanya untuk mencapai keridaan Allah. Bukan untuk yang lain, seperti dunia.

3. Mengenai kualitas dan kuantitas ibadah Rasulullah SAW, Aisyah r.a. pernah berkata “Sesungguhnya  Nabi SAW., bangun di tengah malam (untuk melaksanakan sholat) sehingga kedua telapak kakinya menjadi lecet. Saya berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, mengapa anda masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosayang telah lalu dan yang akan datang bagi mu?” Nabi SAW ., menjawab: “Salahkah aku jika ingin menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”. (HR. Bukhari Muslim)[16]

                  Hadist tersebut memberitahukan kepada kita agar selalu kontinyu terhadap amal ibadah kita. Ibadah yang dilakukan harus benar-benar bagus dalam kualitas yakni keikhasan dan juga dalam hal kuantitas yakni istiqomah.

 4. Hadits tentang zuhud

      Hadits tersebut memberitahukan bahwa segala hal yang ada di dunia tidak dinomorsatukan, melainkan urusan akhiratlah yang terpenting. Zuhud bukan berarti harus benar-benar lepas dari dunia. Hal itu tidaklah mudah bagi seorang manusia yang membutuhkan makan. Yang dimaksud dengan zuhud adalah tidak terlalu mementingan dunia, dunia hanyalah alat untuk pencapaian kesuksesan di akhirat kelak.

5. Rasulullah bersabda: “ Demi Allah, aku memohon ampunan kepada Allah dalam sehari semalam tak kurang dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

      Pentingnya bagi seorang sufi untuk selalu menyadari kesalahan dan dosa yang telah ia perbuat. Perintah ini telah jelas pada Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari. Padahal Nabi adalah seorang yang ma’sum dan sudah dijamin surga, namun jawaban beliau malah ingin tetap bersyukur atas nikmst Allah terhadap kita. Sebagai umat hendaknya meniru perbuatan Nabi tersebut.

SIMPULAN

            Tasawuf merupakan obyek yang kajiannya meliputi wilayah kerohanian, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kegiatan jasmaniah. Perbuatan ini akan mendatangkan sifat yang mulia dan sangat baik.

Dengan adanya bukti dan dalil dari Alquran dan Hadist, maka bertasawuf tidaklah dilarang, namun akan dianjurkan untuk melakukannya. Karena hal itu tasawuf merupakan salah satu cara efektif untuk semakin mendekatkan diri terhadap Allah SWT.


[1] Solihin dan Rosyid Anwar, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta: Nuansa, 2005.), 17

[2] Ibid.,  18

[3] Ibid

[4] Ibid., 19

[5]  Abdul Halim Mahmud, Tasawuf di Dunia Islam, (Bandung: Pustaka Setia,2002), 17

[6]  Rosihon Anwar dan Mukhtar Sholihin,  Ilmu tasawfu, (Bandung: Pustak Setia,2008 ), 12

[7] Ibid., 13

[8] Ibid

[9] Jalaludin Rahmat dkk, Kuliah Kuliah Tasawuf, (Bandung: Pustaka Hidayat, 2000), 23

[10] Mahjuddin, Akhlaq tasawuf II, (Jakarta: Kalam Mulia,2010),  97-99

[11] Ibid., 98

[12] Ibid.,  99

[13]  Jamil, Cakrawala Tasawuf, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), 14

[14]  Ibid., 15

[15] Ibid

[16]  Ibid., 16

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s