CABANG- CABANG ILMU HADIST

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Hadith adalah sesuatu yang dijadikan sumber hukum islam yang kedua. Hadith merupakan tata perilaku, perbuatan dan juga perkataan nabi yang dijadikan contoh untuk seluruh umat manusia. Pembahasan mengenai hadith sangatlah luas. Agar dapat memahami hadith lebih jelasnya, maka perlu dilakukan spesifikasi dalam pembahasan ruang lingkup tertentu dalam hadith. Ada beberapa ilmu yang terbagi untuk mendalami hadith menjadi lebih detail. Ilmu-ilmu tersebut antara lain: ilmu Rijal al Hadith, ilmu jahr wa ta’dil, ilmu Gharib al Hadith, asbaab wurud, nasikh mansukh, mukhtalaf hadith, dan ilmu ilal al hadith.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan ilmu Rijal al Hadith
    2. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Jahr wa Ta’dil
    3. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Gharib Alhadith
    4. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Asbaab Wurud
    5. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Nasikh Mansukh
    6. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Mukhtalaf Hadith
    7. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Ilal Hadith

 

  1. C.    Tujuan

 

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu Rijal al Hadith
  2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Jahr wa Ta’dil
  3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Gharib Alhadith
  4. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Asbaab Wurud
  5. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Nasikh Mansukh
  6. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Mukhtalaf Hadith
  7. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Ilmu Ilal Hadith

 

           

BAB II

CABANG-CABANG ILMU HADITH

  1. A.    Ilmu Rijal Al-Hadith (sisi eksternal dari sebuah hadist)

Mempelajari bagaimana biografi dan sejarah perjalanan sebuah hadist itu berlangsung.

Ilmu Rijal Al-Hadith merupakan

علم يعرف به رواة الحديث من حيث أنهم رواة للحديث

“Ilmu untuk mengetahui para perawi hadith dalam kepasitasnya sebagai perawi hadith”[1]

Telah kita ketahui, kedudukan sanad sangatlah penting untuk mengetahui apakah kualitas hadith tersebut benar-benar shahih ataukah hanya sebuah karya palsu buatan manusia selain nabi. Untuk itu dengan adanya ilmu Rijal Al-Hadith ini sangat membantu dalam menentukan siapa sajakah yang dipercaya sebagai perawi hadith dan juga bagaimana kualitas dari perowi tersebut.

Adapun dalam penyusunannya, kitab-kitab yang merupakan karya dari ilmu Rijal Al-Hadith memiliki banyak versi. Ada yang hanya menuliskan bagaimana riwayat para sahabat saja, ada yang menjelaskan menerangkan riwayat perawi yang dipercaya saja dan  juga ada pula yang menerangkan riwayat-riwayat perawi yang lemah.[2] Namun dalam perkembangannya ilmu Rijal A-Hadith mengalami pembagian menjadi lebih spesifik lagi menjadi dua bagian, yaitu Ilmu Jarh wa Ta’dil dan Ilmu Tarikh Ar-Ruwah.[3]

Ada beberapa contoh kitab yang membahas mengenai ilmu Rijal Al-Hadith, antara lain: Al-Thabaqat karya Al Bukhari, Usd Al-Ghabah karya “izzudin ibn ‘Athir, Al-Isabah karya Al Hafiz ibn Hajar Al-Athqalani.

 

  1. B.     Ilmu Jahr wa Ta’dil

Ilmu Al-Jarh menurut bahasa memiliki makna luka, cela, cacat. Namun menurut istilah, yang dimaksud dengan ilmu Jahr wa Ta’dil adalah ilmu yang membahas apa saja masalah yang bisa timbul pada seorang perawi hingga perawi tersebut dinyatakan cacat. Cacat yang dimaksud bisa melalui keadilan maupun kedhabitannya. Sedangkan yang dimaksud At-Ta’dil adalah pembersihan atau pensucian perawi dan ketetapan, bahwa perowi tersebut memiliki sifat dhabit dan adil.  Jadi, ilmu jahr wa Ta’dil adalah ilmu yang membahas perawi hadith, dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka. Sehingga dengan ilmu ini, kita bisa mengetahui apakah hadith keperiwayatan dari perowi tersebut bisa diterima atau ditolak.

Informasi mengenai Jahr atau Ta’dilnya seorang perawi dapat diketahui melalui popularitas para perawi dikalangan para ahli ilmu sebagai orang yang tsiqoh, dan dari pujian dari rawi lain yang adil. Hal itu menyangkut sebuah kebiasaan yang mereka lakukan setiap harinya, sehingga bisa diketahui bagaimana tata krama, dan juga sikap mereka.[4]

Karya- karya yang merupakan hasil dari ilmu ini antara lain: Ijaz al Wa’di al Muntaqa min Thabaqat Ibn Sa’ad karya As suyuthi, Thabaqat ibnu sa’ad karya Az Zuhri al Bashri.[5]kemudian ada juga kitab yang membahas mengenai perawi yang dipercaya saja yaitu kitab Al Thiqah  karya Al ajali. Kitab yang membahas perawi yang lemah yaitu kitab Al Dhuafa karya Al Bukhari. Dan satu lagi kitab yang membahas mengenai perawi tipuan/ tadlis yakni Al Tabyin karya Ibrahim ibn Muhammad Al Halaby.

  1. C.    Ilmu Gharib Alhadith

Menurut Ibnu Al Shalah, yang dimaksud dengan Gharib Al-Hadith adalah

“عبارة عما وقع فى متونالا حاديث من الالفا ظ الغا مظة البعيدة من الفهم لقلة أستعما لها

“Ungkapan dari lafadz-lafadz yang sulit dan rumit untuk dipahami yang terdapat dalam matan hadith karena (lafadz tersebut) jarang digunakan.”[6]

Jadi yang disebut dengan ilmu Gharib Al-Hadith adalah  ilmu yang membahas makna kalimat yang terdapat dalam matan hadith dari lafadh-lafadh asing (sulit dipahami). Pada zaman nabi ilmu ini belum ada, karena pada saat itu masyarakat arab sudaah bisa faham dengan apa yang dikatakan oleh nabi. Semua penjelasan nabi begitu terekam dan mudah difahami oleh bangsa arab kala itu. Namun ketika islam  berkembang pesat, banyak diantaranya yang kurang bisa dipahami oleh masyarakat selain bangsa arab. Oleh karena ilmu ini sangat penting untuk diajarkan agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dari hadith nabi.

Nabi muhammad menyampaikan hadits dengan bahasa arab yang sangat luwes dan mudah dipahami. Namun ketika islam menyebar luas maka, banyak sekaliorang ajam yang masuk islam. Lha dari situ, muncul bahasa kasar dari orang ajam yang biasanya disampaikan secara ma’nawi.. Oleh karena itu, murid dari orang ajam yang mentransfer ilmunya sulit untuk dipahami. Oleh karena itu perlu adanya ilmu ini.

Ada beberapa cara untuk menafsirkan hadith-hadith yang mengandung lafadz yang gharib ini, yaitu melalui[7]:

  1. Dengan membandingkan hadith yang sanadnya berbeda dengan matan yang mengandung lafad gharib tersebut.
  2. Dengan penjelasan dari para sahabat yang meriwayatkan hadith, atau dengan sahabat lain yang faham makna gharib tersebut.
  3. Penjelasan dari rawi selain sahabat.

Karya-karya yang didalamnya mencakup karya ini adalah An Nihayah fi Gharib al-Hadith wa al Athar karya imam Abu Sa’adat  Al Mubarrak ibn Muhammad. Al –Jazary, Abu Qasim Jarullah Mahmud bin Umar al Zhamakhsari menulis al-Fa’iqfi Gharib al-Hadith, dll.

 

  1. D.    Ilmu Asbaab Wurud

            kata asbaab berasal dari sabab yang artinya tali atau sesuatu yang menghubungkan antara sesuatu dengan yang lainnya. Namun yang dimaksud dengan asbaab wurud adalah sebab-sebab Rasulullah menuturkan atau memberikan sabda beliau kepada orang pada waktu itu. Ada pula yang menafsirkan asbabul wurud adalah ilmu yang mempelajari tentang sebab penuturan nabi untuk hal-hal yang khusus saja.

Fungsi dari adanya ilmu ini adalah dapat membedakan mana hadith yang mutlak dan perincian terhadap yang mujmal, kemusykilan dan menunjukkan illat suatu hukum. Sehingga dengan demikian kita bisa lebih memahami apa yang dimaksud dari isi kandungan hadith tersebut. Namun satu hal yang perlu diingat adalah tidak semua hadith memiliki asbabul wurud sama seperti alquran yang juga tidak semua ayatnya memiliki asbabun nuzul.

 

 

  1. E.     Ilmu Nasikh Mansukh

Ilmu nasikh mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadith-hadith nasikh (menghapus; datang akhir) dan hadith mansukh (dihapus; hadith yang datang lebih dulu).

Ada beberapa cara untuk mengetahui nasakh dan mansukh, antara lain[8]:

  1. Dengan penjelasan dari nash tersendiri (dalam artian Rasulullah sendiri yang telah menghapusnya)
  2. Dengan penjelasan dari sahabat
  3. Dengan mengetahui tarikh keluarnya hadith serta sebab wurudnya hadith.

Ada beberapa tokoh yang menulis mengenai nasikh mansukh, yaitu Ahmad bin Ishak ad dinary, Muhammad bin Bahr al ashbahani, ibnu al Jauzi dll.[9]

 

  1. F.     Ilmu Mukhtalaf Hadith

Ilmu mukhtalaf hadith adalah ilmu yang membahas tentang hadith-hadith yang saling bertentangan atau berlawanan. Maksud dari ilmu ini adalah berusaha menelaah bagaimanakah hadith yang bertentangan itu dikompromikan sehingga menemukan jalan tengah atau bisa diambil manfaat dari keduanya.

Contohnya adalah mengenai hadith nabi yang menyangkut penyakit dan hewan.[10]

لا عدوى ولا طيرة ولا ها مة…..(رواه البخري و مسلم)

” Tidak ada penularan, ramalan jelek, reinkarnasi roh yang telah meninggal ke burung hantu”

فر من المجذوم كما تفر من الاسد……( رواه البخري و مسلم)

Hadith tersebut seolah memiliki perbedaan yang signifikan, namun setelah mengkajinya dalam ilmu mukhtalaf, maka:

  1. Ibnu Al shalah mengatakan bahwa penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya. Tetapi Allahlah yang menularkannya dengan perantara.
  2. Al-Qadhi al Baqillani mengatakan bahwa ketetapan adanya penularan dalam penyakit lepra merupakan kekhususan bagi tiada penularan. (tidak ada penyakit yang menular kecuali apa yang telah terangkan tentang apa saja yang menular)

 

 

Contoh lain dari ilmu mukhtalaful hadith adalah kalimat takbir menjadi 3 kali dan yang satunya ada 2 kali dengan tambahan .

  1. G.     Ilmu Ilal Hadith

Hal terkecil dari ilmu hadits ini adalah bagaimana cara mengklarifikasi hadist yang lebih lengkap dari ilmu gharib.

Ilmu Ilal Hadith adalah ilmu yang mempelajari sebab-sebab khusus/ yang tersembunyi yang dapat merusak keabsahan hadith. Misalnya menyambungkan hadith yang terputus. Memasukkan suatu hadith ke hadith lain, dsb.

Ada dua tempat yang bisa diindikasikan sebagai tempat cacatnya suatu hadith. Yang pertama yaitu sanad dan yang kedua yaitu matan. Ilmu ilal Hadist juga bisa diartikan sebagai penentuan mengenai hadith dhaif.

 

BAB III

SIMPULAN

 

Pembagian hadith yang telah kami jabarkan tersebut sangat menguntungkan ketika kita dihadapkan dengan permasalahan yang ada dalam pemahaman hadith. Dari semua pembagian ilmu tersebut mengandung satu tujuan, yaitu kita lebih mengenal mengenai hadith nabi SAW dan juga akan lebih memahami maknanya. Sehingga dalam pengaplikasi kehidupan sehari-hari kita lebih memahami apa itu kandungan hadith dan bisa mempraktikkannya dengan sebenar-benarnya.

 

 

 

  • Pada masa tirmudzi baru diketahui hadits termasuk shoheh atau tidak.
  • Pada masa sebelum itu, masih belum bisa diketahui bagaimana kualitas hadits tersebut.
  • Hadist tentang puasa rajab adalah dibilang dhaif.


[1] Munzier Suparta, Ilmu Hadist, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2001), 30

[2] Abu Azam Al-Hadi, studi Al-Hadith, (Jember: Pena salsabila, 2008), 99

[3] Ibid, 100

 

[4]Munzier Suparta, Ilmu Hadist, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2001), 33

[5]Subhi As shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadist.(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007), 113

[6] Munzier Suparta, Ilmu Hadist, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2001, 40

[7] Munzier Suparta, Ilmu Hadist, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2001), 41

[8] Ibid 38

[9] Subhi As shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadist.(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007),116

[10] Munzier Suparta, Ilmu Hadist, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2001), 44

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

 1. Latar Belakang

            Untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan, seseorang pasti akan melakukan hal yang paling mendasar untuk mewujudkan cita-citanya. Membuat rancangan serta rincian yang mendetail tentang apapun yang diperlukan untuk memenuhi itu semua. Sama halnya dengan sebuah suatu negara yang memiliki cita-cita. Di negara berkembang tentunya masih banyak cita-cita yang belum bisa diraih. Seperti negara Indonesia. Dalam mewujudkan cita-cita yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia melakukan beberapa hal yang bisa membangun negara dan juga bangsanya.

Pembangunan yang dilakukan sebuah negara Indonesia tidak hanya melalui sebuah rancangan saja, namun juga telah melewati sebuah pemikiran yang serius untuk tercapainya negara sesuai dengan pancasila sebagai dasar negara. Pembangunan yang tidak semena-mena ini membutuhkan berbagai macam usaha yang serius. Pembangunan tidak hanya berupa materi saja, namun juga sebuah moral dan spiritual bangsa. Dalam pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai pembangunan nasional dan dalam bidang bidang tertentu yang menyeluruh.

2. Tujuan

Mengetahui pengertian dari paradigma

Mengetahui pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional

Mengetahui pancasila sebagai paradigma pengembangan IPTEK

Mengetahui paradigma sebagai paradigma pembangunan POLEKSOSBUDHANKAM

3. Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan paradigma?

Apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional?

Apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai paradigma pengembangan IPTEK?

Apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai paradigma pembangunan POLEKSOSBUDHANKAM?

 

BAB II

PANCASILA SEBAGAI PERADIGMA DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL

  1. Pengertian Paradigma

Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan.[1] Menurut Thomas Kuhn, Orang yang pertama kali mengemukakan istilah tersebut menyatakan bahwa ilmu pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola. Sedangkan dalam  bahasa Yunani disebut paradeigma (paradeiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan”(para) dan memperlihatkan (deik).[2] Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, paradigma sebagai alat bantu para illmuwan dalam merumuskan apa yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab dan aturan-aturan yang bagaimana yang harus dijalankan dalam mengetahui persoalan tersebut.

Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum, sosial dan ekonomi. Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter, arah dan
tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai
kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan.
Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam
melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia.

  1. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Nasional

Untuk mencapai tujuan dalam hidup berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa dalam dunia internasional. Tujuan negara sebagaimana dalam UUD 1945 menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki tujuan nasional dan internasional. “ melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia” yang memiliki arti bahwa bangsa Indonesia menegakkan hukum formal. “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa” yang memiliki arti bahwa bangsa Indonesia sebagai negara hukum material, yang bermanifestasi dalam pengembangan perwujudan sumber daya manusia. Adapun “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” memiliki makna bahwa bangsa Indonesia akan mewujudkan sistem pergaulan dunia yang berdasarkan pancasila.

Oleh karena itu pembangunan nasional tidak hanya meliputi pembangunan materi saja, melainkan juga pembangunan secara rokhani pula. Untuk tercapainya masyarakat yang adil dan sejahtera maka pembangunan nasional juga harus berdasarkan masyarakat yang monopluralis pula sesuai dengan bangsa Indonesia.

  1. Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan IPTEK

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakikatnya merupakan suatu hasil kreatifitas rohani manusia. Unsur rohani manusia meliputi aspek akal, rasa dan kehendak.[3] Akal dalam merupakan potensi rohaniah manusia hubungannya dengan intelektualitas. Sedangkan rasa merupakan berhubungan dengan nilai estetika dan kehendak berhubungan dengan bidang moral (etika).

Tujuan esensial dari IPTEK adalah demi kesejahteraan umat manusia, sehingga IPTEK pada hakikatnya tidak bebas nilai namun terikat oleh nilai-nilai  pengembangan IPTEK  sebagai hasil budaya manusia harus didasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sila ketuhanan yang mahaesa mengkomplementasikan ilmu pengetahuan mencipta, keseimbangan antara rasional dan irasional, antara akal dan kehendak. Berdasarkan sila ini IPTEK tidak hanya memikirkan apa yang ditemukan dibuktikan dan diciptakan tetapi juga dipertimbangkan maksud dan akibatnya apakah merugikan manusia disekitarnya tau tidak.

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan IPTEK harus bersikap beradab karena IPTEK adalah sebagai hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral.

Sila persatuan Indonesia mengkomplementasiakan universalitas dan internasionalisme (kemanusiaan) dalam sila-sila yang lain. Pengembangan IPTEK hendaknya dapat mengembangkan rasa nasionalisme, kebesaran  bangsa serta keluhuran bangsa sebagai bagian umat manusia di dunia.

Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan mendasari pengembangan IPTEK secara demokratis, artinya setiap ilmuan harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan IPTEK juga harus menghormati dan menghargai kebebasan orang lain dan juga memiliki sikap yang terbuka untuk dikritik dikaji ulang maupun di bandingkan dengan penemuan lainnya.

Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengkomplementasikan pengembangan IPTEK haruslah menjaga keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan yaitu keseimbangan keadilan dalam hubungannnya dengan dirinya senndiri maupun dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat bangsa dan negara, serta manusia dengan alam lingkungannya.

Pengembangan dan penguasaan dalam IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi ) merupakan salah satu syarat menuju terwujudnya kehidupan masyarakat bangsa yang maju dan modern. Pengembangan dan penguasaan IPTEK menjadi sangat penting untuk dikaitkan dengan kehidupan global yang ditanmdai dengan persaingan. Namun pengembangna IPTEK bukan semata-mata untuk mengejar kemajuan material melainkan harus memperhatikan aspek-aspek spiritual, artinya pengembangan IPTEK harus diarahkan untuk mencapai kebahahiaan lahir dan batin.

Pacasila merupakan satu kesatuan dari sila-sila yang merupakan sumber nilai, kerangka pikir serta asas moralitas bagi pembangunan IPTEK. Sehingga bangsa yang memiliki pengembangan hidup pancasila, maka tidak berlebihan apabila pengembangan IPTEK harus didasarkan atas paradigma pancasila. Apabila kita melihat sila demi sila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan IPTEK ynag saling berkesinambungan.

  1. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan POLEKSOSBUDHANKAM

Pembangunan nasional adalah suatu strategi nasional yang direalisasikan untuk mencapai tujuan bangsa. Dalam pembangunan ini dibagi dalam beberapa bidang yaitu: bidang politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan yang kemudian sering disebut POLEKSOSBUDHANKAM. Dalam membangun bidang-bidang tersebut telah dijabarkan dalam GBHN yang dirinci dalam bidang-bidang operasional serta target pencapaiannya.[4]

Ada beberapa poin yang dimaksud dalam hal ini, antara lain:

  1. Pancasila memberikan dasar-dasar moralitas politik negara.

Drs. Mohammad Hatta sebagai pendiri MPR menyatakan bahwa “ Negara berdasarkan atas ketuhanan yang Mahaesa, atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.”[5] Hal itu menunjukkan bahwa moralitas politik bangsa Indonesia harus mencerminkan  isi dan kandungan dari pancasila. Pemerintah juga harus mematuhi aturan pancasila ketika berpolitik.

©      Politik negara harus berdasarkan pada kerakyatan.

Terdapat pada isi kandungan dari sila ke IV. Ketika berpolitik, maka pemerintah harus bisa melihat dari kacamata rakyat dan mementingkan kepentingan rakyat (umum) daripada kepentingan golongannya sendiri.

©      Pengembangan dan aktualisasi politik negara harus berdasarkan pada moralitas ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan.

Hal itu terdapat pada isi kandungan pancasila sila I, II, dan III. Berpolitik juga harus memperhatikan norma keagamaan, kemanusiaan apalagi mengenai persatuan. Sangatlah tidak mungkin bagi pemerintah suatu negara yang beragama untuk tidak patuh pada norma agamanya. Pemerintah juga harus memperhatikan segi kemanusiaan, karena yang akan diurus oleh mereka pasti akan menyangkut kemanusiaan dan ras berbangsa.

©      Pengembangan dan aktualisasi politik negara demi tercapainya keadilan dan hidup bersama.

Terdapat pada sila ke V. Untuk menghindari adanya mayoritas dan minoritas maka, pemerintah haru bisa bersikap untuk tidak mementingkan salah satu golongan saja. Melainkan bisa menyeimbangkan antara satu golongan dengan golongan yang lain agar tidak terjadi cerai-berai.

  1. Pancasila sebagai paradigma pengembangan Ekonomi

Ekonomi Indonesia berdasarkan pada kemanusiaan (sila II). Ekonomi sendiri tidak dapat dipisahkan dengan politik ekonomi. Politik ekonomi bersifat swasembada dan swadaya dengan tidak mengisolasi diri tetapi diarahkan kepada peningkatan taraf hidup dan daya kreasi rakyat.[6] Kebijakan ekonomi yang baik dalam mengembangkan pembangunan Indonesia adalah ekonomi pancasila. Yang memiliki arti bahwa pihak swasta yang bisa mandiri dilindungi hak-haknya untuk mengembangkan usahanya, sedangkan untuk pihak-pihak yang masih belum bisa mengembangkan usahanya akan dibantu oleh pemerintah dalam mengembangkan usahanya.

  1. Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial budaya

Pembangunan dan pengembangan pada aspek sosial budaya didasarkan pada sila ke II, dalam hal ini berarti pengembangan sosial budaya disesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan demikian, budaya-budaya Indonesia dapat bertahan dan tidak punah karena telah sesuai dengan BHINEEKA TUNGGAL IKA. Disamping itu, untuk melindungi budaya-budaya yang beraneka ragam, pemerintah telah memberikan kebijakan-kebijakan tertentu. Hal tersebuta adalah untuk mengantisipasi agar budaya Indonesia tidak diklaim oleh negara lain.

  1. Pancasila sebagai pearadigma pengembangan pertahanan dan keamanan.

Pertahanan dan keamanan negara berdasarkan pada tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Mahaesa (sila I dan II), kepentingan warga secara menyeluruh (sila III) dan persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan (sila IV).[7]

Pertahanan dan keamanan adalah syarat mutlak untuk menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar. Dengan adanya pertahanan dan keamanan, suatu negara akan mampu menghadapi bahaya-bahaya yang datang dan membangun sesuai dengan tujuan negara.

Dalam rangka ketahanan nasional, peluang dan tantangan bangsa Indonesia dalam era globalisasi dapat dikumpai dalam beberapa bidang yang meliputi bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya.[8]

BAB III

SIMPULAN

 

Hal yang bisa disimpulkan adalah pemerintah Indonesia berupaya membangun negeri ini melalui beberapa cara, namun dari situ pembangunan tidak dilaksanakan semena–mena.namun harus melihat sisi pancasila. Agar sesuai dengan karakter kepribadian bangsa. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah melainkan juga harus dibantu oleh rakyatnya sendiri. Sebagai warga Indonesia kita haruslah bisa bersikap membangun pola pikir kita untuk bisa menerima pembangunan yang bersifat substansial. Dan itu memerlukan kesabaran serta keterbukaan mind dari rakyatnya.

Pembangunan ini haruslah didukung dan juga dilaksanakan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari agar benar-benar terjadi kemajuan dan pengembangan yang progresif untuk negara dan bangsa ini.


[2] Id.wikipedia.org

[3] Kaelan, Pendidikan Pancasila, (Yogyakarta: Paradigma, 2003), 228

[4]  Kaelan, Pendidikan Pancasila, (Yogyakarta: Paradigma, 2003), 229

[5] Ibid, hal 230

[6] Noor Ms Bakry, Ikhtisar pendidikan Kewiraan, (Yogyakarta: Liberti, 1996), 115

[7]  Kaelan, Pendidikan Pancasila, (Yogyakarta: Paradigma, 2003), 233

[8] Komarudin Hidayat, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan,(Jakarta: ICCE UIN  Syarif Hidayatullah, 2008), 27

DZIKIR SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN HATI

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

          Rasulullah adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki akhlak yang sangat mulia. Dalam keseharian beliau, beliau berkata lemah lembut dan selalu berbaik hati kepada siapapun. Sikap akhlaqul karimah yang beliau lakukan itulah yang menyebabkan para sahabat dan umat lain menaruh simpati untuk masuk islam. Sikap berbaik hati yang demikian mengundang pengaruh besar dalam perkembangan islam. Akar dari sikap berbaik hati adalah hati itu sendiri.

Kita juga telah mengetahui bahwa hati merupakan salah satu perangkat penting dalam kehidupan ini. Sebagai seorang manusia pasti memiliki hati sebagai perasa atas segala yang ia terima maupun apa yang ia inginkan. Hati yang menggerakkan setiap langkah, hati pula yang menggerakkan kita untuk meuju ke arah yang kita kehendaki. Hati pulalah yang sanggup merasakan kadar kebahagiaan maupun kadar kesedihan yang kita alami.

Dalam salah satu hadist Rasulullah menyampaikan bahwa di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, jika daging tersebut baik, maka semua daging juga akan menjadi baik. Dan jika apabila segumpal daging itu jelek maka seluruh daging dalam tubuh tersebuat akan jelek semuanya. Segumpal daging itu adalah hati[1]. Oleh karena itu, hati memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, hati kita sering mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Namun untuk menuruti itu semua kadangkala kita memakai nafsu dan tidak menggunakan cara-cara yang diridloi Allah. Sehingga bukan kebenaran yang kita dapatkan melainkan hanya kenikmatan sesaat saja serta juga mengundang kemudharatan yang hanya akan merugikan kita.

Sebagai hamba Allah tentunya kita sangat ingin bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Namun tidak semua orang memiliki hati yang terbuka untuk itu. Kadangkala masih dilingkupi dengan hawa nafsu sehingga tidak mempunyai keluasan untuk bisa menerima hidayah dari Allah. Lantas bagaimanakah cara kita agar bisa membuat hati kita terbuka menerima hidayah dari Allah? Langkah-langkah apakah yang bisa membuat hati kita bisa terbuka untuk menerima hidayah dari-Nya? Hal itu akan terjawab oleh makalah ini. Dzikir merupakan salah satu cara yang ampuh untuk membuka mata hati setiap insan manusia yang ada di dunia ini.

DZIKIR SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN HATI

A.    Pengertian Dzikir

            Kata dzikir berasal dari bahasa arab yakni berasal dari kata Dzakara-yadzkuru-dzikron yang memiliki arti mengingat (Allah). Adapun makna dzikir menurut istilah adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah dan akan diberikan ganjaran bagi orang yang mau melaksanakannya.[2] Dzikir merupakan ibadah yng sangat efisien, karena ibadah tersebut bisa dilakukan kapan saja dan di manapun saja, bahkan wanita dalam keadaan udzur pun bisa melaksanakan dzikir kapanpun dan juga dimana pun ia berada.

Dzikir juga merupakan salah satu ibadah yang sangat disukai oleh Allah karena dengan berdzikir kita akan selalu mengingat Allah dan Allah pun juga akan selalu mengingat kita. Sebagaimana dalam Alquran, Allah berfirman:

Maka ingatlah kamu akan Aku (Allah), niscaya Aku pun mengingat kamu (QS. Al Baqoroh:152) [3].

B.     Pengertian Hati

Definisi hati menurut imam Al Ghazali terbagi menjadi dua. Yang pertama beliau mengungkapkan bahwa Qolbu (hati) adalah segumpal daging yang terletak di bagian paling dalam, sebelah kiri dada. Ia adalah daging khusus.[4] Adapun pengertian yang kedua, Qolbu (hati) merupakan perasaan atau ruh yang berasal dari Allah yang memiliki hubungan dengan qolbu jasmani.[5] Berdasarkan dari dua pengertian tersebut, pengertian hati yang akan kita bahas adalah merujuk pada pengertian hati yang kedua.

Hati atau perasaan merupakan sesuatu yang bisa mengetahui betul siapa dirinya. Melalui hati akan tersingkap semua kebenaran dan kejahatan yang ada dalam dirinya. Hati juga merupakan organ sentral dari sebuah tindakan yang akan dilakukannya, karena dia adalah raja dari semua anggota tubuh. Melalui hati juga akan tercermin pribadi manusia tersebut, apakah baik atau buruk, hatilah yang menjadi penentu.

Hati juga merupakan tempat perebutan antara malaikat dan syaitan. Begitu iblis tahu bahwa hati merupakan pusat dari semua keinginan, maka iblis berusaha membisikkan hal-hal yang jahat dan menawarkan berbagai macam syahwat yang ada. Sehingga, manusia yang terjebak oleh nafsu, mereka akan menuruti apa kata nafsu mereka dan otomatis jalan lurus menuju Allah akan teralihkan.

Adapun hati menurut jenis-jenisnya tebagi menjadi tiga, antara lain[6]:

1. Hati yang sehat

adalah hati yang bersih dari segala macam syahwat yang dilarang oleh Allah. Semua yang diinginkan oleh hatinya merupakan cerminan dari ibadahnya kepada Allah. Manusia yang memiliki hati yang sehat akan selalu menjadikan amal perbuatannya menjadi bernilai ibadah kepada Allah Swt.

2. Hati yang sakit

adalah hati yang memiliki penyakit, namun penyakit kyang dimaksud bukanlah penyakit yang terlihat secara kasad mata. Namun hanya bisa dilihat dari kacamata rohani. Hati menurut jenis ini mengandung dua aspek cinta. Aspek cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah Swt, beriman pada –Nya, tawakal kepada –Nya, serta menyerukan amal kebaikan dalam setiap tindakannya. Adapun aspek cinta yang kedua adalah aspek cinta kepada syahwat, mengutamakannya serta sangat berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

3. Hati yang mati

adalah  hati yang tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Hati tersebut adalah hati yang tidak kenal dengan siapa Penciptanya, tidak menyembah dan melakukan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Hawa nafsu yang akan menjadi pemimpinnya serta nafsu yang akan menjadi pembimbingnya. Semua hal yang dia lakukan hanyalah berdasarkan nafsu semata.

C.    Manfaat Dzikir Untuk Hati Manusia

Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan apabila kita senantiasa berdzikir kepada Allah. Salah satu diantaranya adalah memperoleh ketenangan dan ketentraman hati.[7] Di dalam berdzikir terdapat obat yang bisa mengobati orang-orang yang merasa gelisah, mengalami keperdihan hidup. Hanya dengan mengingat Allah kita akan tahu siapakah diri kita sebenarnya sehingga kita kita juga akan tahu siapakah Tuhan kita.

Dzikir juga dapat dijadikan sebagai penetralisir berbagai problematika dan melapangkan segala beban jiwa. Sebaliknya kelalaian berdzikir akan membuahkan kegelisahan, kegundahan, kesulitan dan penguasaan diri oleh syaitan.[8] Tidak jarang, ketika manusia berada dalam keadaan lalai dari Allah (Tidak mengingat-Nya), maka manusia tersebut akan mudah tergoda oleh bujukan syaitan dan hatinya akan menjadi tempat bersarangnya keinginan-keinginan dari syahwatnya.

Dzikir dapat dijadikan sebagai penyinar wajah dan hati manusia serta membungkus orang berdzikir dengan kewibawaan dan keluhuran[9]. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ar Ra’d ayat 28:

 

Dzikir dapat menjaga dari sifat munafik dan dapat menghilangkan sifat kerasnya hati. Adapun manfaat lainnya yang juga sangat penting adalah dzikir dapat dijadikan sebagai pemupuk ma’rifat dan cinta kepada Allah Swt.[10] Allah akan selalu menjaga hati setiap insannya yang selalu mengingat dan selalu mengagungkan-Nya. Dalam hatinya tidak ada celah keburukan, bahkan celah kemunafikan, karena hatinya sangat sibuk untuk menyebut nama Allah.

Dzikir dapat memberikan ilham kepada seorang hamba untuk mengucapkan syahadat di saat kematiannya. Ketika dalam keadaan sakaratul maut, tentunya lidah akan merasakan sangat sulit berbicara dan juga akan merasakan kelu yang sangat mendalam. Kebiasaan berdzikir akan membantu seorang hamba dalam menghilangkan kekakuan lisan serta hatinya akn selalu terjaga untuk mengingat Allah Swt.

D.    Langkah-Langkah Dalam Menghidupkan Hati

Berdasarkan  jenis-jenis hati yang telah dipaparkan diatas ada tiga jenis macam hati, yaitu hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Dari ketiga jenis tersebut yang perlu dipermasalahkan adalah mengenai hati yang sakit dan yang mati.

1. Mengobati hati yang sakit

Sebagaimana tubuh yang sakit, kita harus mengobatinya agar sembuh dan sehat kembali. Begitu pula dengan hati yang sakit. Kita harus bsegera mengobatinya agar sakitnya tidak terlalu parah dan segera kembali menjadi sehat. Makna sakit disini tidaklah sama dengan keadaan lahiriah namun bersifat batiniyah. Penyakit yang dialami hati merupakan penyakit yang sangat sulit disembuhkan karena tidak memerlukan penanganan medis melainkan memerlukan sentuhan-sentuhan rohani.

Ada dua macam penyakit hati, yaitu penyakit yang berhubungan dengan anggota badan yaitu syahwat (keinginan) dan penyakit yang berhubungan dengan akal yaitu syubhat (kesamar-samaran).[11] Penyakit ini sangat berbahaya bagi setiap manusia karena penyakit ini tidak jelas keberadaannya, serta manusia tersebut kurang bisa merasakan bagaimanakah hatinya yang sakit.

Untuk mengobati penyakit syubhat adalah selalu mengingat Allah dengan membaca Alquran, karena di dalam Alquran terdapat keterangan dan petunjuk yang bisa membedakan antara kebenaran dengan kebathilan.[12] Untuk mengobati penyakit syahwat maka juga dianjurkan untuk mengingat Allah dengan membaca Alquran, karena di dalam Alquran terdapat hikmah, pelajaran yang baik, anjuran zuhud dan cinta akhirat. Dengan demikian mengingat Allah melalui Alquran dapat menghilangkan penyakit yang mengajak kepada keinginan yang rusak, kemudian hati akan menjadi lurus dan kembali ke fitroh asalnya.

Setelah membaca Alquran tentu orang tersebut dapat membedakan mana yang benar dan yang bathil, selanjutnya hati masih terliputi oleh keadaan yang berbolak-balik. Adapun cara yang ampuh untuk menjaga keseimbangan hati agar tetap menjadi hamba yang  memiliki hati sehat adalah dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah. Karena hanya dengan berdzikir kita bisa selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun.

Dan Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatan mereka”

Perumpamaan hati yang sakit adalah hati yang kadangkala memiliki sifat yang cenderung kepada kebaikan dan kadangkala hati tersebut cenderung pada nafsunya. Karena itu, dengan berdzikir, kita akan selalu ingat pada Allah dan akan terhindar dari kecenderungan untuk menuruti nafsu tersebut.

2. Menghidupkan kembali hati yang mati

Hati yang mati adalah hati yang tidak secara langsung bisa menerima kebenaran yang ada dalam Alquran maupun hadist. Segala hal yang ada dalam hatinya dipenuhi dengan nafsu saja, sehingga keluasan menerima hidayah dari Allah sangatlah sempit. Untuk menghidupkan kembali hati yang mati, tentunya tidak semudah membalikkan tangan, banyak cara-cara yang ditempuh agar hati kembali hidup dan menjalankan fungsinya secara normal.

Cara yang pertama adalah dengan memperbanyak mendengarkan tausiyah maupun ceramah tentang agama. Dengan begitu hati yang mati lama-kelamaan akan timbul berbagai rasa yang mengajak pada kebaikan. Selanjutnya dilanjutkan dengan  membaca Alquran sehingga kita bisa membedakan antara mana yang haq dan yang bathil. Abru setelah itu dengan banyak mengingat Allah secara terus menerus. Dengan mengingat Allah (melalui dzikir), tentu kita tidak akan terpengaruh untuk menuruti kata nafsu dan syaitan. Malah kita akan semakin kuat untuk menghadapi berbagai macam cobaan dan  godaan dari syaitan.

Untuk menjaga agar hati selalu sehat dan tidak mudah terjerumus terhadap hal-hal yang berbau maksiat hendaknya kita harus selalu menjaga pintu-pintu hati. Diantara pintu-pintu hati pada manusia adalah lisan, pendengaran, kedua kaki, kedua tangan, penglihatan, dan pendiuman.[13]

Lisan adalah pintu pertama penentu hati. Jika hati seseorang baik, maka tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut seseorang kecuali hanyalah kebaikan. Untuk menghindari lisan agar tidak membicarakan hal-hal yang buruk maka sibukkan dia dengan dzikir yang hanya bisa mengingatkannya pada Sang Pencipta. Hanya dengan itulah lisan bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

Pendengaran merupakan pintu hati yang kedua yang harus dijaga. Seseorang hendaknya mendengarkan hal-hal yang baik-baik saja dan menghindari suara-suara yang dapat menjerumuskan kita dalam keburukan. Lebih baik mendengarkan suara yang baik, jika tidak bisa maka akan lebih baik pula mencari ketenangan daripada mendengarkan hal-hal yang buruk. Adapun kedua kaki merupakan pintu hati yang ketiga. Kedua kaki digunakan untuk menjalankan perintah hati. Hendaknya kita selalu melangkahkan kaki kita hanya meuju ke arah kebaikan.

Kedua tangan merupakan pintu keempat hati. Disinilah peran segala aktivitas yang melaksanakan adalah tangan. Hati yang menyuruh tangan agar melaksanakan perntahnya. Hendaknya kita selalu menjaga tangan kita untuk melakukan perbuatan yang baik saja. Adapun penglihatan merupakan pintu hati yang kelima. Penglihatan adalah kunci dari segala yang terwujud oleh hati. Manakala hati kita sedih maka mata kita juga merasakan kepedihan dan mengeluarkan air mata sebagai luapan gambaran yang dirasakan hati. Hal yang sebaiknya dilihat oleh mata adalah segala hal yang mengandung unsur kebaikan saja.

Segala hal yang kita lakukan hendaknya berdasarkan niat untuk ibadah, manakala hati kita sudah mantap maka segala apa yang kita lakukan akan terasa mudah  untuk dilaksanakan.

SIMPULAN

            Berdzikir merupakan salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara itu pula semakin kita dekat dengan Allah maka hati kita akan terasa tentram. Ketenangan hati dapat kita raih selama kita selalu berada dalam keadaan yang tenang dan saat merasa aman.

Dzikir juga merupakan salah satu cara hemat dalam melakukan penjernihah hati. Bagaimana tidak, dzikir bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apapun juga. Dzikir senantiasa menjadikan kita semakin insyaf dan mengangungkan kebesaran-Nya. Kita juga bisa terhindar dari perbuatan tercela seperti menggunjing dalam hati maupun penyaki-penyakit hati yang lainnya.

Dzikir merupakan  sarana dan alat yang tepat untuk menghidupkan hati. Penyembuh untuk hati yang sakit serta sebagai penghidup untuk hati yang telah mati. Baik dzikir maupun ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah Swt., agar hasilnya maksimal serta hati dan diri kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Dengan begitu hati akan semakin tenang dan suasana hati akan terasa tentram.


[1] Khalid Abu Syadi, Periksalah Hati Anda, (Surakarta: Insan Kamil, 2008), 13

[2] Amru Khaled, The power of Dzikir, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 29

[3] Muhammad Al Baqir, Rahasia Dzikir dan Doa, (Bandung: Karisma, 1998), 13

[4] Khaled, The Power of Dzikir, 10

[5] Ibid

[6] Fadhli Bahri, Keajaiban Hati, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), 17

[7] Khaled, The True Power of Dzikir, 34

[8] Ibid., 35

[9] Ibid., 57

[10] Ibid., 58

[11] Syadi, Periksalah Hati Anda, 149

[12] Bahri,  Keajaiban Hati,  75

[13] Syadi, Periksalah Hati Anda, 233

DASAR-DASAR NORMATIF TENTANG AKHLAK TASAWUF

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

          Rasulullah dalam sebuah hadist diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam penyempurnaan akhlak tersebut, Rasulullah mengajak umatnya untuk mengingat dan mengetahui Sang Pencipta Allah SWT. Upaya dalam penyampaian ini melahirkan akhlak yang mulia sehingga ditiru oleh para pengikutnya. Hingga pada akhirnya masyarakat jahiliyah diubah menjadi masyarakat yang bermoral dan berakhlak mulia.

            Dalam penyampaian ajaran yang dikenalkan oleh Rasulullah, terdapat dasar-dasar dan ketetapan yang telah diberikan Allah sebagai penguat ajaran yang dibawa Rasul. Dasar-dasar ini dijadikan sumber rujukan dalam memutuskan perkara yang menyangkut agama.

            Dalam rangka untuk menjadi seorang hamba yang baik, maka kita seharusnya mengenal Allah lebih dalam daripada sebelumnya, lebih berusaha mendekat pada-Nya dan memohon ampun atas dosa yang telah kita lakukan. Upaya-upaya inilah yang disebut usaha bertasawuf. Lalu bagaimanakan bertasawuf yang benar itu? Tentu saja hal itu akan berkaitan dengan bagaimana kita bersikap dan bertingkah laku.

            Lalu, untuk apa kita harus bertasawuf? Apakah yang menjadi dasar atas tasawuf tersebut? Pertanyaan ini akan terjawab dalam makalah ini. Alquran dan hadist adalah dasar atas diperbolehkannya bertasawuf dalam islam.

 

DASAR-DASAR NORMATIF TENTANG AKHLAK TASAWWUF

A.    Pengertian Akhlak

            Menurut bahasa makna dari kata akhlaq adalah budi pekerti atau sopan santun.[1] Sedangkan menurut istilah, beberapa ulama mengartikan akhlak berbeda antara satu dengan yang lainnya.

            Menurut Ibn Maskawaih dalam kitabnya Tahdzib al Akhlak wa al-Tathir Al-Araaq, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.[2]

            Menurut al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum ad Din, pengertian akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran.[3]

            Menurut Ibrahim Anis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.[4]

            Dari beberapa pengertian yang telah dipaparkan oleh para ahli tersebut, kami mengambil kesimpulan bahwa makna dari akhlak adalah suatu sifat yang dimiliki seseorang yang menjadi suatu kebiasaan dan itu dilakukan secara spontan tanpa membutuhkan sebuah pemikiran.

B.     Pengertian Tasawuf

            Ada beberapa macam pengertian tasawuf. Tasawuf jika dilihat dari beberapa para ahli. Secara lughawi kata tasawuf memiliki beberapa makna yang berbeda bergantung pada asal katanya.

            Menurut Al Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah menulis pendapat-pendapat asal kata tasawuf adalah sebagai berikut[5]:

1. Berasal dari kata shuf (bulu domba atau wool).

              Jadi seseorang yang mengenakan kain wol dia diberi nama ber-tasawuf

2. Berasal dari kata ash-shuffah(serambi)Masjid Rasulullah SAW.

3. Berasal dari kata ash-shafa (kejernihan atau ketulusan).

4. Berasal dari kata shaff yang berarti barisan.

                        Adapun pengertian tasawuf berdasarkan istilah, para ahli juga mengemukakan pendapat-pendapat mereka. Antara pendapat satu dengan pendapat lainnya terdapat perbedaan.

                        Menurut al Junaidi, tasawuf ialah bahwa yang Haq adalah yang mematikan, dan Haq-lah yang menghidupkan[6]. Maksud dari pernyataan tersebut adalah tasawuf berkaitan langsung dengan Allah. Dialah Tuhan yang mematikan dan hanya Dialah yang menghidupkan. Hal itu berbeda lagi dengan pendapat dari Muhammad Ali al Qassab. Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud tasawuf adalah akhlak mulia yang timbul pada masa yang mulia dari seorang yang mulia di tengah-tengah kaumnya yang mulia[7]. Maksud dari al Qassab tersebut adalah tasawuf berawal dari munculnya sikap dari seseorang yang membuat kaumnya merasa kagum dan ingin meniru, sehingga dalam rentan waktu itu mengubah kaumnya menjadi mulia. Maka dari itu masa ini disebut juga masa mulia karena diisi dengan penuh akhlak mulia oleh orang-orang  yang hidup di masa tersebut.

                        Berbeda dengan definisi yang telah dipaparkan oleh sejumlah tokoh tersebut, Abu Hamzah memberikan ciri untuk orang yang benar-benar bertasawuf (sufi), yakni: berfakir setelah dia kaya, merendahkan diri setelah bermegah-megah, menyembunyikan diri setelah terkenal; dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megah setelah dia hina, dan tersohor setelah ia sembunyi.[8]

            Dari pengertian dan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud tasawuf adalah suatu sikap atau akhlak yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan diri terhadap Tuhannya dengan cara memerangi hawa nafsu untuk mencapai ridho Tuhannya. Ruang lingkup tasawuf mencakup urusan batiniah, yakni hati.

            Hati menurut Rasulullah terbagi menjadi empat macam, yaitu: hati yang tajam, hati yang bersih dari kotoran, hati yang didalamnya terdapat lampu yang menyinari hatinya dan hati yang terhijab.[9]

C.    Hubungan Akhlak dan Tasawuf

            Dalam meraih kesuksesan bertasawuf seseorang harus memiliki akhlak yang mulia. Ibadah sangat menonjol ketika berada di ruang lingkup tasawuf. Ibadah-ibadah tersebut antara lain: shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan yang lainnya dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal pelaksanaannya kita sebagai seorang hamba akan mengikuti apa yang telah Allah perintahkan. Salah satunya adalah berakhlakul karimah. Dengan begitu secara langsung menjadi sufi tidak akan bisa lepas dari upaya berakhlak mulia. Berakhlak mulia dalam arti mensifati diri sendiri dengan sifat Nabi yang tercermin dalam Alquran dan Hadist.

            Kaitan tasawuf menyangkup wilayah kerohanian lebih dalamnya. Tasawuf merupakan wujud kepedulian terhadap hati masing-masing. Dan akhlak adalah buah dari apa yang telah kita rasakan ketika bertasawuf.

D.    Sumber Tradisi Dalam Kehidupan Tasawuf

Ada beberapa tradisi pengamalan ajaran tasawuf yang bersumber dari beberapa ajaran, antara lain[10]:

1. Tradisi Agama Kristen

Berasal dari kebiasaan Nabi Isa yang berpuasa pada siang hari lalu beribadah pada malam hari dan juga berasal dari Maryam yang menjadi biarawati di bawah bimbingan Nabi Zakaria untuk menekuni ajaran spiritual. Unsur yang berpengaruh dari tradisi ini dalam ilmu tasawuf adalah sikap fakir.

2. Tradisi Hindu dan Budha

Ajaran hindu mengajarkan untuk mendorong manusia agar menyatukan jiwanya dengan dewa yang biasa disebut penyatuan atman dengan brahman. Dalam ajaran tasawuf hal ini disebut wihdatul wujud.

3. Pengaruh Pemikiran Filsafat Mistik Phytagoras

Phytagoras berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal, yang selalu ingin menempati surga, namun tidak akan bisa menempati surga bila terkotori oleh jasmani yang sangat menyayangi duniawi.[11]

4. Pengaruh Pemikiran Neo-Platonisme

Menurut Plotinus dalam teori emanasinya bahwa segala yang ada merupakan pancaran dari Dzat Yang Mahaesa dan sesuatu tersebut akan kembali lagi kepada-Nya. Karena itu disyaratkan agar mensucikan diri dari kotoran duniawi dengan cara meninggalkannya sehingga bisa bersatu dengan-Nya.[12]

Namun pada dasarnya tasawuf yang dimaksud tidak mengakar pada hal tersebut. Tasawuf adalah karya islami sendiri, hanya saja terdapat beberapa persamaan jika dilihat dari beberapa sudut dengan pengaruh-pengaruh diatas. Tasawuf sebenarnya berasal dari sebuah kebiasaan yang kemudian membudaya.

 E.     Dasar Tasawuf Dalam Alquran

            Kita telah mengetahui bahwa Alquran telah menjadi sumber hukum dalam agama islam. Oleh karena itu, dalam merumuskan sesuatu seperti ilmu atau hal yang menyangkut dengan tata cara keislaman, maka Alquran menjadi bahan paling utama yang dijadikan sebuah sumber. Dalam hal ini tasawuf juga menjadi materi yang harus dicari kebenarannya, yakni  melalui Alquran terlebih dahulu. Berikut ini beberapa ayat penguat dari Alquran yang dijadikan sumber tasawuf, antara lain:

1. QS. Ar-Ra’du: 28

Pada dasarnya tasawuf berpusat pada kegiatan rohaniyah, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, tasawuf tidak berkenaan dengan adab-adab lahiriah. Seorang hamba harus sebisa mungkin untuk selalu ingat (dzikir) pada Penciptanya. Pada ayat tersebut telah termuat bahwa yang bisa mengingat Penciptanya, maka hati mereka akan tentram.

2. QS. Al Isra’: 79

 Cara mengingat sang Pencipta dalam tasawuf juga bisa melalui sholat. Alquran juga telah memuat bahwa terdapat anjuran untuk sholat tahajud (lail) sebagai tambahan beribadah untuk semakin mendekatkan diri terhadap Allah.

 3. QS. Adz Dzariyat: 17-18

Mengingat Allah merupakan perbuatan yang harus senantiasa dilakukan. Tidak hanya kualitas saja, melainkan juga kuantitasnya dalam mengingat Allah. Ayat diatas telah memberikan gambaran bagaimana waktu yang tepat untuk berada lebih dekat dengan Allah, yakni pada saat akhir malam dan dengan cara memohon ampun atas perbuatan dosa mereka

.

4. QS. Fathir: 5

Bertasawuf juga mengajarkan agar kita tidak terlalu melihat kehidupan dunia. Dunia saat ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Dan yang lebih dipentingkan adalah kehidupan akhirat nantinya. Hal itu juga telah diungkapkan oleh Alquran pada surat An Nisa’.

5.QS. Al Maidah: 119

Tujuan bertasawuf adalah demi mencapai keridhaan Allah SWT semata. Apa yang dilakukannya, seperti beribadah, beramal sholeh dan upaya lainnya dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Jika seorang hamba melakukan ibadah atas keikhlasannya, maka Allah juga akan ridha terhadapnya.

 F.     Dasar Tasawuf Dalam Sunnah Rasulullah SAW

Riwayat telah menceritakan bahwa Nabi Muhammad setiap bulan Ramadhan berada di gua hira untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati serta hakikat kebenaran di tengah-tengah keramaian hidup[13]. Juga telah ditemukan sejumlah hadits yang memuat ajaran-ajaran tasawuf antara lain:

1. Dalam hadist Qudsi dikatakan bahwa Nabi Muhammd SAW bersabda: “ sesungguhnya Allah berkata: “Siapa yang memusuhi wali (hamba kekasih)-Ku maka Aku akan menyatakan perang kepadanya. Seorang hamba yangmendekatkan diri pada-Ku lebih aku cintai daripada apa yang aku wajibkan kepadanya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarnya atas apa yang sedang didengarkannya, menjadi penglihatanya atas apa yang dilihatnya, menjadi tangannya atas apa yang sedang digenggamnya, dan menjadi pejalannya atas perjalanan yang dilakukannya. Apabila dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya; dan apabila dia memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya” (HR. Bukhari Muslim)[14]

                  Rasulullah bersabda dalam hadist tersebut bahwa yang menjadi kekasih Allah adalah orang yang dekat dengan Allah, upaya mendekatkan dengan Allah adalah melalui jalan tasawuf. Jika dianalogkan, kekasih Allah adalah orang yang melakukan tasawuf (sufi). Dengan bertasawuf maka, kita akan mudah mengharapkan pengampunan dari Allah.

2. Rasulullah bersabda: “ Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu. (HR. Bukhari Muslim)[15]

                  Pada hadits tersebut, Rasulullah sangat menganjurkan bahwa amal ibadah yang kita lakukan harus dan hanya ditujukan untuk mengharap keridhaan Allah seolah-olah kita telah melihatnya. Hal itu juga merupakan tujuan dari tasawuf yang menganjurkan agar kita beribadah hanya untuk mencapai keridaan Allah. Bukan untuk yang lain, seperti dunia.

3. Mengenai kualitas dan kuantitas ibadah Rasulullah SAW, Aisyah r.a. pernah berkata “Sesungguhnya  Nabi SAW., bangun di tengah malam (untuk melaksanakan sholat) sehingga kedua telapak kakinya menjadi lecet. Saya berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, mengapa anda masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosayang telah lalu dan yang akan datang bagi mu?” Nabi SAW ., menjawab: “Salahkah aku jika ingin menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?”. (HR. Bukhari Muslim)[16]

                  Hadist tersebut memberitahukan kepada kita agar selalu kontinyu terhadap amal ibadah kita. Ibadah yang dilakukan harus benar-benar bagus dalam kualitas yakni keikhasan dan juga dalam hal kuantitas yakni istiqomah.

 4. Hadits tentang zuhud

      Hadits tersebut memberitahukan bahwa segala hal yang ada di dunia tidak dinomorsatukan, melainkan urusan akhiratlah yang terpenting. Zuhud bukan berarti harus benar-benar lepas dari dunia. Hal itu tidaklah mudah bagi seorang manusia yang membutuhkan makan. Yang dimaksud dengan zuhud adalah tidak terlalu mementingan dunia, dunia hanyalah alat untuk pencapaian kesuksesan di akhirat kelak.

5. Rasulullah bersabda: “ Demi Allah, aku memohon ampunan kepada Allah dalam sehari semalam tak kurang dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

      Pentingnya bagi seorang sufi untuk selalu menyadari kesalahan dan dosa yang telah ia perbuat. Perintah ini telah jelas pada Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari. Padahal Nabi adalah seorang yang ma’sum dan sudah dijamin surga, namun jawaban beliau malah ingin tetap bersyukur atas nikmst Allah terhadap kita. Sebagai umat hendaknya meniru perbuatan Nabi tersebut.

SIMPULAN

            Tasawuf merupakan obyek yang kajiannya meliputi wilayah kerohanian, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kegiatan jasmaniah. Perbuatan ini akan mendatangkan sifat yang mulia dan sangat baik.

Dengan adanya bukti dan dalil dari Alquran dan Hadist, maka bertasawuf tidaklah dilarang, namun akan dianjurkan untuk melakukannya. Karena hal itu tasawuf merupakan salah satu cara efektif untuk semakin mendekatkan diri terhadap Allah SWT.


[1] Solihin dan Rosyid Anwar, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta: Nuansa, 2005.), 17

[2] Ibid.,  18

[3] Ibid

[4] Ibid., 19

[5]  Abdul Halim Mahmud, Tasawuf di Dunia Islam, (Bandung: Pustaka Setia,2002), 17

[6]  Rosihon Anwar dan Mukhtar Sholihin,  Ilmu tasawfu, (Bandung: Pustak Setia,2008 ), 12

[7] Ibid., 13

[8] Ibid

[9] Jalaludin Rahmat dkk, Kuliah Kuliah Tasawuf, (Bandung: Pustaka Hidayat, 2000), 23

[10] Mahjuddin, Akhlaq tasawuf II, (Jakarta: Kalam Mulia,2010),  97-99

[11] Ibid., 98

[12] Ibid.,  99

[13]  Jamil, Cakrawala Tasawuf, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), 14

[14]  Ibid., 15

[15] Ibid

[16]  Ibid., 16

IJTIHAD

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam,  para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’ dan Qiyas,  sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum.

Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, Qiyas, dan Ijtihad. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Namun lebih spesifiknya kami akan membahas tentang Ijtihad.

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Pengertian Ijtihad dan Tinjauan sejarah
  2. Urgensi Ijtihad
  3. Persyaratan Mujtahid
  4. Tingkatan Mujtahid
  5. Wilayah Ijtihad
  6. Penyebab Timbulnya Perbedaan Hasil Ijtihad

 

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui makna Ijtihad dan tinjauan sejarahnya
  2. Untuk memahami kapan dan dalam keadaan bagaimana ijtihad itu dilakukan
  3. Untuk mengetahui persyaratan mujtahid
  4. Untuk mengetahui tingkatan mujtahid
  5. Untuk memahami wilayah ijtihad
  6. Untuk megetahui penyebab timbulnya perbedaan hasil ijtihad

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah :

Bab I PENDAHULUAN, yang terdiri dari : Latar belakang masalah, tujuan, dan rumusan masalah

Bab II PEMBAHASAN, yang akan dibahas mengenai :

  • Pengertian Ijtihad dan tinjauan sejarah
  • Urgensi Ijtihad
  • Syarat syarat mujtahid
  • Tingkatan mujtahid
  • Wilayah ijtihad
  • Sebab sebab yang menimbulkan perbedaan hasil ijtihad

Bab III PENUTUP, dalam bab ini kami akan menguraikan mengenai kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ijtihad dan Tinjauan Sejarah Ijtihad

1. Pengertian Ijtihad

Dari segi bahasa, ijtihad berarti; mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah:

اَ ْلإِجْتِهَادُ: اِسْتَفْرَاغُ الْوُسْعِ فِيْ نَيْلِ جُكْمٍ َِرْعِيٍّ بِطَرِيْقِ اْلإِسْتِنْبَاطِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

 

Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah.[1]

Dalam alquran, istilah ijtihad terdapat pada surat An Nahl :38, An Nur :53 dan Al Fathir : 42. Istilah ijtihad disitu memiliki makna pengerahan segala kemampuan dan kekuatan.

Sedangkan menurut terminologi, ijtihad muncul pada masa sahabat. Menurut Abu Zahrah (t.th : 379), secara istilah, arti ijtihad ialah Upaya seorang ahli fiqih dengan kemampuannya dalam mewujudkan hukum hukum amaliah yang diambil dari dalil dalil yang rinci.

Adapun pengertian ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’), melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Tanpa dalil syara’ dan tanpa cara tertentu, maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad.[2]

 

 

 

2. Tinjauan Sejarah Ijtihad

Menurut segi historis, ijtihad pada dasarnya telah tumbuh sejak masa Nabi Muhammad SAW,  kemudian berkembang pada masa sahabat dan tabi’in hingga generasi berikutnya.Rasullullah bersabda “Apabila seorang hakim hendak menetapkan suatu hukum kemudian ia berijtihad dan ternyata ijtihadnya benar maka baginya dua pahala dan apabila ijtihadnya salah maka untuknya satu ganjaran.”

Ijtihad bukan semata-mata disebabkan atas dorongan Nabi, melainkan juga berasal dari inisiatif para sahabat. Ketika pada masa sahabat, ijtihad mulai benar-benar berfungsi sebagai penggali hukum untuk menyelesaikan beberapa kasus.

Pada masa dinasti Umayyah (661-750), ijtihad masih sama dengan periode sebelumnya. Hanya saja, di masa ini sempat terjadi kekacauan politik, banyak pemalsuan hadist dan tersebarnya fatwa yang berlawanan. Namun pada masa puncaknya, yakni pada masa Dinasti Abassiyah, ijtihad telah berkembang pesat dan diikuti dengan kemajuan dunia islam di berbagai bidang.

2.2 Urgensi Ijtihad

Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. Sebab, dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran, belum terang). Dari sinilah, sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluruh alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam.

Para ulama menetapkan bahwa hukum melakukan ijtihad terbagi menjadi 3 yaitu :

  1. Wajib ‘ain

bagi orang yang dimintai fatwa hukum mengenai suatu peristiwa yang terjadi. Dan dia khawatir peristiwa itu akan lenyap tanpa ada kepastian hukumnya.

  1. Wajib kifayah

bagi orang yang dimintai fatwa hukum mengenai suatu peristiwa yang tidak dikhawatirkan lenyap peristiwa itu. Sedangkan selain dia masih terdapat mujtahid-mujtahid lainnya.

  1. Sunnat

Apabila melakukan ijtihad mengenai maslah- masalah yang belum atau tidak terjadi.

 

Urgensi upaya ijtihad dapat dilihat dari fungsi ijtihad itu sendiri,yaitu :

  1. Fungsi al ruju’(kembali)

mengembalikan ajaran islam kepada alquran dan assunnah dari segala interpretasi yang mungkin kurang relevan

  1. Fungsi al ihya’ (kehidupan)

menghidupkan kembali bagian bagian dari nilai dan semangat islam agar mampu menjawab tantangan zaman

  1. Fungsi al inabah (pembenahan)

memenuhi ajaran ajaran islam yang telah diijtihadi oleh ulama terdahulu dan dimungkinkan adanya kesalahan menurut konteks zaman dan kondisi yang dihadapi.

Mengingat betapa pentingnya ijtihad, Ulama menunjuk ijtihad sebagai sebagai salah satu hukum islam berdasarkan Firman Allah dalam surat An Nisa :59

 

 

2.3 Syarat-Syarat Mujtahid

Menurut Muhammad bin Ali bin Muhammad al Syaukani, syarat-syarat Mujtahid ada 3            antara lain :

1. Mengetahui al quran dan as sunah yang bertalian dengan masalah masalah hukum

2. Mengetahui ijma’ sehingga tidak berpendapat yang menyalahi ijma’ ulama

3. Mengetahui nasikh mansukh sehingga tidak berpendapat berdasarkan dalil yang mansukh

4. Mengetahui bahasa arab

5. Mengetahui ilmu ushul fiqh yang merupakan ilmu terpenting bagi mujtahid karena membahas dasar dasar yang berkaitan dengan ijtihad.

 

Sedangkan menurut Khalaf dalam bukunya Ilmu Ushul Fiqih menyatakan bahwa syarat mujtahid ada 5, antara lain :

1. Menguasai bahasa arab dan segala aspeknya, seperti nahwu, sharaf, balaghah serta seluk beluknya.

2. Mengetahui pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat alquran yang berhubungan dengan masalah hukum.

3. Mengenal dan mengerti hadist nabi yang berhubungan dengan masalah hukum, baik qauliyah (perkataan), fi’liyah (perbuatan), dan taqririyah (ketetapan)

4. Mengerti tentang ushul fiqh sebagai sarana untuk istinbath hukum

5. Mengenal ijma’ sehingga tidak memberikan fatwa yang bertentangan dengan ijma’ tersebut.

 

2.4 Tingkatan Mujtahid

Tingkatan mujtahid terbagi menjadi 2 menurut Muhaimin:

 

 

2.5 Wilayah Ijtihad

Menurut ulama salaf, wilayah ijtihad terbatas pada masalah fiqhiyah. Namun pada wilayah tersebut telah berkembang pada berbagai aspek keislaman, meliputi : Akidah, Filsafat, Tasawwuf dan Fiqh. Itu artinya tidak semua bidang bisa di-ijtihadkan.

Hal-hal yang tidak boleh di ijtihadkan antara lain :

  1. Masalah Qathiyah

adalah masalah yang sudah ditetapkan hukumnya dengan dalil dalil yang pasti, baik melalui dalil naqli maupun dalil aqli. Hukum ini bersifat muthlaq dan sudah pasti diberlakukan sepanjang masa, sehingga tak mungkin terjadi adanya perubahan dan modifikasi serta tak ada peluang juga dalam mengistinbathksn hukum bagi para mujtahid. Contohnya, kewajiban seperti shalat, zakat, puasa, haji. Untuk kewajiban tersebut, alquran telah mengaturnya dengan dalil yang sharih (tegas).

  1. Masalah yang telah dijinakkan oleh ulama mujtahid dai suatu massa demikian pula lapangan hukum yang bersifat ta’abbudi (ghairu ma’qulil makna) dimana kualitas illat hukumnya tidak dapat dicerna dan diketahui oleh akal mujtahid. Contohnya, setiap pemberian 1/6 pusaka untuk nenek.

Adapun masalah-masalah yang dapat diijtihadkan, antara lain :

  1. Masalah-masalah yang ditunjuk oleh nash yang zhanniyatul wurud (kemunculannya perlu penelitian lebih lanjut) dan zhanniyatud dilalah (makna dan ketetapan hukumnya tidak jelas dan tegas).

Masalah Zhanniyah terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

a)      Hasil analisa para theolog

Yaitu maslah yang tidak berkaitan dengan akidah keimanan seseorang. Karena hal itu membutuhkan pemikiran. Dan ilmu yang membutuhkan pemikiran bukanlah bidang ijtihad.

b)      Aspek amaliyah yang zhanni

Yaitu masalah yang belum ditentukan kadar dan kriterianya dalam nash. Contohnya : apakah batas batas menyusui yang dapat menimbulkan mahram.

c)      Sebagian kaidah-kaidah zhanni

Yaitu masalah qiyas. Sebagian ulama memeganginya karena qiyas merupakan norma hukum tersendiri.

2. ) Masalah-masalah yang tidak ada nashnya sama sekali.

Sedangkan bagi masalah yang telah ditetapkan oleh dalil sharih (jelas dan tegas) yang qat’iyyatud wurud (kemunculannya tidak perlu penelitian lebih lanjut) dan qath’iyyatud dilalah (makna dan ketetapan hukumnya sudah jelas dan tegas), maka tidak ada jalan untuk diijtihadi. Kita berkewajiban melaksanakan petunjuk nash tersebut. Misalnya jumlah hukum cambuk seratus kali dalam firman Allah

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Perempuan dan laki-laki yang berzina cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali. Q.s. An-Nur:2

2.6 Sebab sebab yang menimbulkan Perbedaan Hasil Ijtihad

Hal ini dikarenakan beberapa sebab. Hasan Al-Banna dalam risalahnya berjudul Da’watuna telah menyebutkan beberapa sebab, antara lain :

  1. Perbedaan kekuatan akal dalam melakukan istinbath, perbedaan dalam memahami dalil-dalil, perbedaan dalam menyelami kandungan2 makna, dan dalam menghubungkan antara hakikat yang satu dengan hakikat yang lain.
  2. Adanya perbedaan banyak dan sedikitnya ilmu seseorang. Dalam artian,ada ilmu yang telah sampai kepada seseorang, namun tidak sampai kepada orang lain, orang ini keilmuannya begini dan orang itu keilmuannya begitu.
  3. Perbedaan kondisi dan lingkungan. Karenanya, kita melihat fikih penduduk Irak berbeda dengan fikih penduduk orang Hijaz. Bahkan kita menyaksikan bahwa pendapat seorang ahli fikih yang sama pada kondisi dan lingkungan tertentu, dapat berbeda pendapatnya pada kondisi dan lingkungan yang lain. Kita bisa melihat bagaimana Imam Syafi’i berfatwa dengan menggunakan qaul qadiim (hasil ijtihadnya sebelum masuk mesir di Irak) dan berfatwa dengan menggunakan qaul jadiid (hasil ijtihad setelah masuk mesir). Padahal, pada kedua pendapat tersebut sama-sama ia ambil dari konsep dan pandangan  yang jelas dan benar menurutnya. Hal ini tidak berarti ia menyimpangkan kebenaran di dalam dua pendapatnya tersebut.
  4. Perbedaan kemantapan hati terhadap suatu riwayat ketika menerimanya. Kita menemukan seorang perawi menurut seorang imam adalah tsiqah (terpercaya). Karenanya, imam tersebut jiwanya merasa tenang, dan dirinya merasa baik. Maka,ia merasa baik mengambil riwayat darinya. Dan menurut imam yang lain perawi itu cacat, setelah diketahui dari keadaanya (yang membuat cacat)
  5. Perbedaan dalam menentukan kualitas indikasi dalil. Misalnya, imam ini berpendapat bahwa praktek yang dilakukan orang-orang didahulukan atas hadist ahad, namun imam yang lain tidak setuju dengan hal tersebut. Atau imam ini mengambil dan mengamalkan hadist mursal, tapi imam yang lain tidak.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 

  1. Ijtihad merupakan sumber hukum islam setelah Alquran dan Assunah. Yang merupakan sebuah usaha penafsiran dalil-dalil tersebut untuk mengetahui hukum islam yang masih membutuhkan penafsiran lebih mendalam
  2. Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia bisa menjadi seorang mujtahid.
  3. Dalam pelaksanaannya, seorang mujtahid dapat digolongkan menjadi beberapa golongan- golongan atau kelompok- kelompok.
  4. Ijtihad tidak bisa dilakukan dalam seluruh aspek agama, melainkan hanya pada hal-hal yang bersifat amaliyah dan  yang membutuhkan penafsiran lebih rinci mengenai dalil-dalil muthlaq. Sedangkan dalil-dalil yang sudah tidak membutuhkan penafsiran lagi tidak bisa dijadikan objek dalam ijtihad.
  5. Dapat dijumpai perbedaan hasil ijtihad. Hal itu dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari mujtahidnya atau subjeknya dan ada pula dikarenakan oleh faktor sekitarnya.

[1] Dr. H. Moh. Rifai, Fiqh, (Semarang: CV. Wicaksana, 2003), hal. 124

[2] M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 33

 

KANKER SERVIKS MENGANCAM WANITA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Seiring dengan bertambahnya zaman, teknologi dan pola hidup manusia berkembang tidak terbatas. Hampir semua bidang pekerjaan dikerjakan secara instan tanpa mengeluarkan tenaga yang berat. Pekerjaan yang berat menjadi ringan dan mudah. Waktu penyelesaiannya juga semakin cepat.

Sisi lain dari semua itu, penemuan mengenai berbagai macam jenis penyakit semakin marak. Mulai dari flu burung hingga flu babi telah menjadi bahan pembicaraan menakutkan untuk masyarakat terkini.

Kanker adalah salah satu penyakit yang marak dibicarakan. Masyarakat terkini menganggap penyakit ini menjadi momok menakutkan. Memang, penyakit ini sangat mengerikan dan memberikan dampak yang sangat serius untuk penderitanya. Tidak jarang kasus kanker sering menyebabkan kematian.

Kematian yang diakibatkan kanker, sering membuat cemas pada penderita yang mengalami kanker. Padahal, jika kanker tersebut bisa diketahui tanda-tandanya dari awal akan semakin mudah untuk disembuhkan. Jika disertai pula dengan keseriusan dalam berobat, maka proses penyembuhan juga akan semakin cepat.

Kanker tidak mengenal gender. Penyakit ini bisa menyerang wanita maupun pria. Apabila pasien yang datang sudah terlambat maka penanganan akan menjadi sulit. Itu akan mempersulit kesembuhan dan jika sudah tidak bisa ditangani lagi, pasien akan meninggal. Angka mortalitas pun akan semakin tinggi.

BAB II

KANKER SERVIKS

  1. A. Definisi Kanker Serviks

Kanker merupakan suatu penyakit yang bisa merenggut nyawa seseorang. Penyakit ini menjadi penyakit yang ditakuti oleh masyarakat terkini. Sifatnya yang mematikan sering membuat orang beranggapan bahwa penyakit ini sulit disembuhkan.

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang bisa menyerang wanita. Kanker serviks bisa menyerang wanita manapun. Kanker ini tidak mengenal status dan latar belakang seseorang. Kanker serviks ini berawal dari suatu penggandaan sel yakni pada proses pembelahan sel yang disebut mitosis sel. Menurut Dalimartha (2004:1) sel-sel kanker akan terus membelah diri, terlepas dari pengendalian pertumbuhan, dan tidak lagi menuruti hukum-hukum pembiakan. Pembelahan dan penggandaan tersebut berlangsung terus menerus selama tidak ada faktor yang bisa menghambat hal itu terjadi. Kemungkinan yang bisa terjadi akibat dari pembelahan yang tidak terbatas tersebut adalah adanya disfungsi organ. Organ  yang terserang kanker bisa menimbulkan rasa nyeri pada penderitanya.

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang tidak bisa dianggap remeh. Kanker ini bisa menyebabkan kematian, selain itu kanker ini juga dapat ditularkan. Hal itu telah diungkapkan oleh Dalimartha (2004:11-12) bahwa penyakit yang ditularkan seperti Human Pappiloma Virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis, dan vulva.

Daerah yang menjadi obyek sasaran dari kanker serviks adalah bagian intim organ wanita. Sesuai dengan namanya, organ tersebut adalah serviks atau yang disebut sebagai mulut rahim. Menurut Dalimartha (2004:1) serviks atau mulut rahim merupakan bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke liang senggama atau vagina. Sehingga dapat disimpulkan bahwa serviks berada di antara vagina dan rahim atau uterus.

Kanker serviks tidak hanya menyerang daerah serviks saja. Kanker ini bisa menyebar ke daerah lain dalam tubuh seseorang. Hal tersebut juga telah dikemukakan oleh Mardiana (2008:18) yang mengatakan bahwa kanker mulut rahim dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa, atau langsung ke organ vital lain seperti parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing dan rektum.

 

  1. B. Penyebab Kanker Serviks

Sampai sejauh ini belum bisa diputuskan secara pasti apakah penyebab utama yang menyebabkan kanker serviks itu terjadi. Ada beberapa argumen yang mengatakan bahwa ada faktor-faktor pendukung sehingga sel kanker bisa muncul. Salah satunya adalah adanya zat-zat tertentu yang bisa memicu kanker. Hal itu terdapat dalam ungkapan Kardinan dan Taryono (2003:12) yang mengatakan bahwa beberapa zat yang diduga sebagai pemicu kanker (karsinogen), seperti aflatoksin, teleosidin, nitrosoguanidin dan nitrososarkosin.

Zat-zat kimia tersebut menjadi patokan bahwa kita sebisa mungkin menghindari zat-zat tersebut agar tidak memicu tumbuhnya kanker dalam tubuh kita. Sebaiknya kita membiasakan diri untuk kembali ke alam dengan cara memperbarui pola hidup sehat demi menjaga kesehatan tubuh kita. Alangkah lebih baik jika kita juga membatasi diri untuk mengkonsumsi makanan siap saji yang mengandung banyak bahan kimia dan beralih dengan banyak mengkonsumsi bahan makanan organik yang sehat, tanpa bahan kimia. Makanan organik yang tidak mengandung bahan kimia dinilai lebih aman untuk dikonsumsi bila dibandingkan makanan yang mengandung bahan kimia. Dampak negatif yang diperoleh ketika mengonsumsi bahan kimia tidak secara langsung bisa dirasakan oleh tubuh. Namun, apabila dikonsumsi dalam batas waktu yang cukup lama, maka berbagai penyakit mengerikan seperti kanker akan muncul.

Selain itu, terdapat faktor lain yang bisa memicu kanker. Menurut Kardinan dan Taryono (2003:15) kanker juga bisa disebabkan oleh faktor genetis. Dewasa ini telah kita ketahui bahwa genetis merupakan sifatt keturunan. Jadi kanker ini juga bisa diturunkan kepada anak anak kita. Hal itu menjadi resiko besar untuk anak dari penderita kanker, karena hal itu memungkinkan suatu hari anak tersebut akan mengalami hal yang sama seperti orang tuanya yang menderita kanker. Selain itu terdapat beberapa faktor yang menyebabkan resiko terkena kanker. Menurut Dalimartha (2004:11-12) ada lima faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker serviks sebagai berikut.

  1. 1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan yang terjadi pada usia muda.

Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, maka semakin besar resikonya untuk terkena kanker serviks. Untuk itu, kaum wanita seharusnya memiliki rencana yang matang apabila ingin menikah. Akan lebih baik jika kaum perempuan menikah dalam batas umur yang cukup sehingga terhindar dari resiko terkena kanker serviks.

  1. 2. Berganti-ganti pasangan seksual

Perilaku seksual yang berganti-ganti pasangan seks akan meningkatkan resiko tertularnya penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan bisa seperti infeksi berbagai macam virus. Kaum perempuan sebaiknya memiliki satu pasangan seks saja. Apabila memiliki lebih dari satu pasangan seks, hal itu dikhawatirkan akan memicu timbulnya kanker serviks.

  1. 3. Rokok sigaret

Dewasa ini, kita telah mengenal bahwa rokok dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi dalam tubuh. Salah satunya adalah meningkatkan resiko terkena kanker. Tidak hanya kanker serviks namun juga kanker-kanker yang lain seperti kanker paru dan kanker prostat. “Penelitian menunjukkan bahwa lendir serviks pada perempuan perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang terdapat di dalam rokok” (Dalimartha, 2004:12). Demi menjaga kesehatan dalam tubuh dan juga mengurangi resiko terkena kanker serviks maka sebaiknya kaum perempuan tidak merokok.

  1. 4. Defisiensi zat gizi

Makna dari defisiensi berarti kekurangan. Yang dimaksud dari defisiensi zat gizi adalah tubuh memerlukan zat-zat tertentu agar bisa seimbang. Jika zat-zat tersebut kurang atau tidak ada, maka keseimbangan tubuh akan terganggu. Menurut Dalimartha (2004:12),

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan resiko terkena kanker serviks pada perempuan yang makanannya rendah beta karoten dan vitamin A.

Berdasarkan yang dikemukakan oleh Dalimarta tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kaum perempuan sebaiknya meningkatkan konsumsi terhadap bahan-bahan makanan yang mengandung beta karoten dan vitamin A, seperti wortel, tomat dan sayuran lain yang bisa menjaga kandungan asam folat dalam tubuh sehingga resiko terjangkitnya kanker serviks akan terkurangi.

  1. 5. Trauma kronis pada serviks

Faktor resiko juga bisa terjadi pada wanita yang pernah mengalami trauma kronis pada kanker serviks. Trauma tersebut bisa seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun pada serviks.

Bukan berarti bahwa wanita yang tidak memiliki semua unsur diatas terbebas dari resiko terkena kanker serviks. Semua wanita menerima resiko kanker serviks karena banyak faktor lain yang bisa menyebabkan hal ini terjadi. Hendaklah kita turut waspada dalam segala bentuk ancaman kesehatan yang akan mengenai kita.

 

  1. C. Gejala Kanker Serviks

Ada beberapa gejala yang dapat diindikasikan sebagai tanda-tanda adanya kanker serviks dalam tubuh. Tubuh yang menerima disfungsi organ akan terasa berbeda jika dibandingkan ketika sehat. Keadaan ini dapat dijadikan tanda-tanda gejala terkenanya kanker serviks pada perempuan. Menurut Dalimartha (2004:12) pada tahap prakanker sering tidak menunjukkan gejala atau tanda yang khas, namun kadang bisa ditemukan gejala berikut.

  1. Keputihan;
  2. Pendarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi pendarahan yang abnormal;
  3. Timbulnya pendarahan sesudah menopause;
  4. Pada lesi invasif, keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah;
  5. Timbul gejala-gejala anemia;
  6. Timbul nyeri panggul dan di tempat-tempat lainnya;
  7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering.

 

Gejala-gejala tersebut harus kita waspadai. Bila tubuh sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut maka sebaiknya harus diperiksakan ke dokter. Hal itu dimaksudkan agar mendapat penanganan sesegera mungkin.

 

  1. D. Penanganan Kanker Serviks

Penanganan kanker serviks bisa melalui pengobatan dan melalui pencegahan. Penanganan melalui pengobatan dilakukan apabila seorang perempuan sudah terkena kanker serviks. Penanganan melalui pencegahan bisa dilakukan pada perempuan yang belum positif terkena kanker serviks. Ada beberapa cara dalam melakukan pencegahan terhadap kanker serviks bagi wanita yang belum terindikasi terkena kanker serviks. Menurut Dalimartha (2004:14) kanker serviks dapat dicegah dengan beberapa hal sebagai berikut.

  1. Bagi perempuan yang berumur di atas 25 tahun, telah menikah dan sudah mempunyai anak, perlu melakukan pemeriksaan pap-smear sekali setiap tahun atau sesuai dengan petunjuk dokter;
  2. Lakukan kontrasepsi dengan metode barrier seperti diafragma dan kondom, karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker serviks;
  3. Hindari hubungan seks pada usia muda dan jangan berganti-ganti pasangan seks;
  4. Dianjurkan untuk berperilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan alat kelamin (genital) dan menghindari rokok;
  5. Perbanyak makan sayur dan buah segar.

 

Dengan cara tersebut, pencegahan bisa dilakukan agar terhindar dari kanker serviks. Apabila kanker serviks telah terdeteksi sejak dini, maka kemungkinan besar upaya kesembuhan seorang penderita akan tinggi sehingga hal itu bisa menekan atau mengurangi angka kematian yang diakibatkan oleh kanker.

Apabila seorang perempuan telah terindikasi terkena kanker, maka ada beberapa cara dalam penanganan, yakni melalui pengobatan oleh dokter. Menurut Kardinan dan Taryono (2003:15-17) secara umum, kanker dapat diatasi dengan tindakan-tindakan seperti berikut.

  1. 1. Pengawasan atau observasi (active surveillance)

Kanker serviks yang ada dalam tubuh harus diawasi bagaimakah perkembangannya. Pengawasan ini harus dilakukan sesering mungkin. Jika mengalami perkembangan yang serius maka, perlu tindakan lanjut dalam mengatasi hal tersebut. Selain pengobatan, juga perlu adanya kontrol diri agar kanker dalam tubuh tidak tersebar ke lain jaringan.

  1. 2. Operasi (surgery)

Apabila kanker dalam tubuh memerlukan tindakan cepat, maka operasi mejadi salah satu alternatif dalam pemecahan masalah ini. Operasi dilakukan jika yang terkena kanker adalah jaringan yang terbatas pada salah satu organ saja. Hasil operasi mungkin bisa dirasakan secara langsung oleh tubuh, namun setelah operasi selesai dilakukan, tubuh tetap memerlukan kontrol. Hal itu perlu dilakukan karena dikhawatirkan sisa jaringan yang terkena kanker masih melekat pada tubuh.

  1. 3. Radioterapi

Pengobatan kanker juga bisa melalui radioterapi. Pengobatan ini dilakukan bertahap. Radioterapi dilakukan menurut perintah dokter. Penderita memerlukan kesabaran dalam pengobatan ini.

  1. 4. Kemoterapi

Kemoterapi juga menjadi salah satu pengobatan untuk penanggulangan kanker serviks. Seperti halnya radioterapi, kemoterapi juga memerlukan kesabaran dalam menjalani pengobatan ini. Terdapat beberapa efek dari kemoterapi yang dirasakan oleh penderita. Efek tersebut berbeda pada setiap pasien yang menjalani pengobatan tersebut.

  1. 5. Terapi hormon

Salah satu alternatif yang bisa dilakukan dalam mengobati kanker serviks adalah dengan terapi hormon. Terapi hormon dilakukan dengan petunjuk dari dokter. Dalam tubuh terdapat beberapa hormon yang berfungsi menjaga metabolisme tubuh. Kanker serviks menyebabkan disfungsi organ pada serviks. Dengan begitu kerja hormon juga mengalami disfungsi. Terapi hormon diharapkan bisa mengembalikan fungsi hormon seperti semula dan juga bisa mengembalikan kondisi tubuh menjadi sehat.

  1. 6. Terapi biologis

Terapi biologis dilakukan sesuai dengan petunjuk dokter. Terapi ini bisa dilakukan apabila kondisi tubuh seorang perempuan yang terkena kanker dengan cara pemberian bahan-bahan alami atau  organik. Kadar kimia yang ada dalam tubuh orang tersebut memerlukan penetral. Dengan terapi ini diharapkan bisa menetralkan toksin yang ada dalam tubuh tersebut.

  1. 7. Radioaktif

Terapi radioaktif juga harus berdasarkan atas anjuran dokter. Radioaktif merupakan sebuah sinar. Terapi ini dilakukan dengan menyinari anggota tubuh yang terkena kanker, sehingga sel-sel kanker yang mengalami disfungsi tersebut bisa mati.

  1. 8. Vaksinasi

Vaksinasi kanker merupakan salah satu cara untuk mengobati kanker dari dalam. Dewasa ini, kita mengetahui bahwa vaksin diberikan agar seseorang tidak terjangkit suatu penyakit dan itu biasanya dilakukan sebagai tindakan preventif. namun, pemberian vaksin kali ini dengan tujuan agar kanker serviks yang telah diobati tidak akan muncul kembali pada penderita yang pernah mengalaminya. Jadi, vaksin diberikan setelah penderita berhasil mengobati tubuhnya dari kanker serviks. Vaksin ini diberikan sesuai dengan anjuran dokter.

Pengobatan-pengobatan tersebut merupakan usaha yang bisa dilakukan agar bisa sembuh dari penyakit kanker. Kesembuhan seorang penderita kanker tidak hanya berasal dari peralatan medis yang canggih serta penanganan yang serius. Kesembuhan dari penyakit tersebut juga berasal dari sugesti atau kepercayaan dari dalam diri sendiri. Seberapakah niatnya seorang penderita untuk sembuh, itu juga ikut menentukan kesembuhan penderita itu sendiri. Oleh sebab itu, pihak yang dekat dengan penderita, seperti keluarga, teman dan sahabatnya sebaiknya memberikan motivasi dan semangat untuk penderita agar si penderita sembuh dari cengkraman kanker serviks.

 

 

 

  1. E. Kanker serviks di Indonesia

Kanker merupakan penyakit yang sangat populer di kalangan masyarakat. Kanker, khususnya kanker serviks telah kita ketahui bisa menyerang semua wanita. Menurut Dalimartha (2004:11) kanker serviks atau karsinoma serviks uterus merupakan jenis kanker kedua terbanyak pada perempuan di seluruh dunia setelah kanker payudara. Penyakit ini tidak memandang usia maupun latar belakang seorang perempuan. Telah terindikasi bahwa jumlah penderita kanker serviks di Indonesia sekarang ini tidak sedikit. Dalimartha (2004:11) mengungkapkan bahwa di Indonesia kanker serviks menduduki peringkat pertama. Memahami hal ini, perlu kita sadari bahwa kanker merupakan ancaman yang cukup besar untuk wanita Indonesia. Berita dan informasi mengenai kanker ini belum tentu bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hal itu dikarenakan sistem informasi yang sangat sulit dijangkau.

Lemahnya sistem informasi yang ada di negara kita inilah penyebab terbesar dalam penanganan kanker serviks tersebut. Masyarakat awam sebagian besar tidak menyadari apakah sebenarnya yang dimaksud kanker serviks ini. Pengetahuan perempuan mengenai penyebab kanker serviks masih sangat minim. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat awam agar mengenal betul gejala kanker serviks sehingga dalam penanganan tidak akan mengalami hambatan dan penderita bisa disembuhkan dengan mudah.

Berdasarkan pemaparan di atas, sebaiknya dilakukan pencegahan dan penanganan yang lebih serius lagi mengenai kanker treatment. Jika hal itu dilakukan lebih serius dan pemerintah mau mengambil tindakan tegas, maka angka mortalitas akibat penyakit ini akan semakin turun.

BAB III

SIMPULAN

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit kanker ini sangat serius untuk negara berkembang pada saat ini. Perlu adanya penanganan yang serius dan kewaspadaan dari semua pihak. Tidak hanya melalui pemerintah yang harus peduli terhadap korban atau penderita kanker, melainkan kita sendiri juga harus bisa mengambil tindakan preventif untuk memperkecil terjadinya infeksi kanker ini, sehingga hal itu bisa menekan angka kematian atau mortalitas yang ada. Tindakan preventif yang bisa dilakukan antara lain, dengan melakukan cara-cara pencegahan yang telah dipaparkan diatas Tindakan yang harus dilakukan apabila sudah terdeteksi gejala kanker adalah dengan memeriksakan segera dan mengobatinya sejak dini, karena akan semakin sulit jika kanker sudah dalam stadium lanjut. Semakin cepat terdeteksi akan semakin besar peluang kesembuhan bagi para penderita. Semakin cepat penanganan akan memperkecil jumlah mortalitas suatu negara.

 

 

 

DAMPAK BENCANA ALAM

DAMPAK BENCANA ALAM
A. Pendahuluan
Telah banyak terjadi berbagai macam kejadian alam yang kurang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, lumpur Lapindo di Sidoarjo, tsunami Mentawai, meletusnya Merapi dan masih banyak lagi.
Adanya bencana-bencana tersebut telah banyak memberikan bukti bahwa alam sudah tidak mau bersahabat dengan manusia lagi. Siapa yang harus dipersalahkan atas semua ini, apakah semua kesalahan tersebut diletakkan pada tangan manusia, atau memang Tuhan berkehendak lain dengan alam kita.
Konsep manusia dalam berpikir tentunya tidak akan bisa mampu membahas mengenai kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Kita tidak akan sanggup menebak apakah yang akan terjadi pada alam sekitar kita pada esok hari. Jangankan untuk mengetahui keadaan esok hari, satu jam ke depan saja, kita tidak akan sanggup memprediksinya. Apa yang telah dikehendaki-Nya tidak akan bisa terurungkan bila memang Tuhan berkehendak demikian. Satu hal yang bisa dilakukan manusia hanya berdoa agar diberikan keselamatan oleh-Nya.
Apabila bencana itu benar-benar terjadi tentunya akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kita nantinya. Entah baik entah buruk yang jelas itu akan mengubah banyak pola hidup kita di masa mendatang. Pengaruh tersebut bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.

B. Bencana di Indonesia
Dengan banyaknya bencana alam yang ada di Indonesia sekarang ini, tentunya akan memberikan dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan di masa mendatang. Dampak yang bisa dirasakan itu bisa secara langsung maupun secara tidak secara langsung.
Salah satu dampak langsung adalah kehilangan nyawa orang yang kita sayangi. Tidak menutup kemungkinan bencana di suatu tempat akan menghilangkan banyak nyawa. Letusan terakhir Merapi telah memakan korban hingga puluhan nyawa, puluhan lainnya terluka dan puluhan yang lain dinyatakan hilang dan belum ada tanda-tanda ditemukannya kembali. Orang tua banyak yang kehilangan anaknya dan anak juga tidak sedikit yang kehilangan orang tuanya. Mereka akan mengalami kesendirian tanpa berkumpul dengan keluarganya. Kesedihan mendalam akan mereka rasakan, mengingat banyaknya kenangan bersama keluarga yang tidak akan mereka rasakan kembali di masa mendatang. Tidak jarang pula, dengan adanya bencana alam akan meningkatkan tingkat pengadopsian anak dan itu akan semakin menjauhkan mereka dari keluarganya yang masih hidup.
Kejadian alam akan dinyatakan sebagai bencana apabila menimbulkan banyak kerugian di berbagai macam hal. Dalam hal materi, tentunya akan menyebabkan banyak kerusakan-kerusakan di beberapa bangunan. Mulai dari rumah-rumah penduduk, bangunan sekolah, perkantoran dan pusat perbelanjaan akan mengalami nasib yang sama. Kerusakan tersebut bergantung dari seberapa parahnya bencana itu terjadi di suatu tempat. Kerusakan yang terjadi juga akan merugikan negara, karena tempat-tempat perkantoran dan pusat perbelanjaan merupakan penghasil devisa negara. Negara akan mengalami kebangkrutan.
Tingkat kriminalitas juga akan semakin naik. Banyaknya korban yang kehilangan harta bendanya dan untuk menyambung hidup mereka, mereka akan melakukan hal di luar batas. Salah satunya dengan melakukan tindak kriminal. Tinsak kriminal yang bisa mereka lakukan antara lain melalui cara mencuri, merampok atau bahkan dengan melakukan penodongan. Sebagian besar alasan dari mereka untuk melakukan itu semua adalah atas dasar keterpaksaan karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak dan mereka tak bisa mendapatkannya karena materi yang mereka punya sudah habis oleh bencana. Tidak hanya itu, tetapi juga korban yang dinyatakan masih hidup, harus bisa bertahan dalam kondisi yang sulit. Mereka akan memadati tempat-tempat pengungsian dan barak-barak penampungan. Dalam keadaan terbatas pula, mereka harus berbagi dengan yang lain agar bisa bertahan hidup.
Semua bantuan yang dikirimkan pada mereka harus dibagi bersama agar yang lainnya juga bisa bertahan hidup. Selimut, bahan makanan, obat obatan dan bantuan lainnya. Mereka harus berbagi bersama dan tidak mementingkan diri mereka sendiri. Dengan keterbatasan yang mereka punya inilah, mereka sangat mengharapkan bantuan maupun uluran tangan saudaranya yang lain di suatu tempat sana.
Padatnya tempat penampungan bagi pengungsi korban bencana alam, juga menimbulkan dampak serius lain, yakni datangnya penyakit-penyakit. Penyakit yang diderita oleh pengungsi korban bencana dikarenakan minimnya air bersih serta tidak terjaganya kebersihan di tempat penampungan tersebut. Tidak heran, banyak pengungsi korban bencana yang menderita diare, masuk angin dan penyakit kulit.
Dampak bencana alam juga sangat memprihatinkan para korban. banyak jiwa yang terselamatkan, tapi mungkin mereka mengalami kecacatan. Cacat yang mereka miliki bisa permanen dan sementara. Bagi yang memiliki cacat permanen mungkin akan membuat mereka frustasi dan kehilangan semangat hidup. Mereka yang terbiasa bekerja sebagai buruh tidak akan bisa bekerja lagi karena kakinya patah. Itu adalah salah satu contoh yang bisa diambil dari dampak bencana alam yang korban rasakan.
Berdasarkan banyaknya korban yang mengalami cedera dan luka, pihak rumah sakit juga akan ikut andil dalam menangani korban bencana. Stok darah akan terkuras karena korban yang membutuhkan darah juga banyak. Obat-obatan rumah sakit juga akan terkuras tanpa adanya pengembalian biaya. Namun, itu semua sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dalam menangani masalah ini.
Dampak psikologis yang dapat mereka rasakan sangat berat. Mereka akan kehilangan semangat hidup yang mereka punya. Mereka terpukul dengan adanya bencana alam yang mereka alami. Mereka takkan sanggup meghadapi semua ini dengan baik lagi. Sering dijumpai, mereka dalam keadaan frustasi dan depresi. Tidak jarang pula, banyak diantara mereka yang mengalami trauma atas kejadian bencana alam yang mereka rasakan untuk pertama kalinya. Ketakutan mendalam pada alam yang telah dirusak oleh Tuhan membuat mereka khawatir akan terjadi lagi dan merasa was-was akan terulang kembali.

C. Simpulan
Telah dijabarkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh adanya bencana alam antara lain, banyaknya korban yang terenggut jiwanya, banyak dijumpai kerusaka fisik material pada bangunan dan fasilitas-fasilitas umum.
Selain itu, dampak dari bencana alam adalah meningkatkan tingkat kriminalitas dan pola hidup yang tak sehat di lingkungan para pengungsi. Serta dengan adanya bencana juga akan merugikan negara karena sebagian devisanya tidak akan lagi bisa beroperasi dan menyusutkan devisa negara.
Dampak lain yang bisa dirasakan adalah dari sisi psikologis yang dialami oleh para korban. Mereka akan kehilangan semangat hidup dan mengalami trauma mendalam akibat bencana.
Oleh sebab itu, mereka yang mengalami ini semua harus kita bantu dan kita support dalam menjalankan kehidupannya di masa mendatang dengan cara memberikannya bantuan fisik maupun spirit. Bantuan fisik itu dapat berupa makanan, uang, selimut, obat-obatan dan sebagainya. Sedangkan bantuan spirit antara lain dengan memberikannya motivasi untuk meningkatkan semangat hidupnya serta menjauhkannya dari trauma mendalam yang mereka alami.