DZIKIR SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN HATI

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

          Rasulullah adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki akhlak yang sangat mulia. Dalam keseharian beliau, beliau berkata lemah lembut dan selalu berbaik hati kepada siapapun. Sikap akhlaqul karimah yang beliau lakukan itulah yang menyebabkan para sahabat dan umat lain menaruh simpati untuk masuk islam. Sikap berbaik hati yang demikian mengundang pengaruh besar dalam perkembangan islam. Akar dari sikap berbaik hati adalah hati itu sendiri.

Kita juga telah mengetahui bahwa hati merupakan salah satu perangkat penting dalam kehidupan ini. Sebagai seorang manusia pasti memiliki hati sebagai perasa atas segala yang ia terima maupun apa yang ia inginkan. Hati yang menggerakkan setiap langkah, hati pula yang menggerakkan kita untuk meuju ke arah yang kita kehendaki. Hati pulalah yang sanggup merasakan kadar kebahagiaan maupun kadar kesedihan yang kita alami.

Dalam salah satu hadist Rasulullah menyampaikan bahwa di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, jika daging tersebut baik, maka semua daging juga akan menjadi baik. Dan jika apabila segumpal daging itu jelek maka seluruh daging dalam tubuh tersebuat akan jelek semuanya. Segumpal daging itu adalah hati[1]. Oleh karena itu, hati memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya, hati kita sering mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Namun untuk menuruti itu semua kadangkala kita memakai nafsu dan tidak menggunakan cara-cara yang diridloi Allah. Sehingga bukan kebenaran yang kita dapatkan melainkan hanya kenikmatan sesaat saja serta juga mengundang kemudharatan yang hanya akan merugikan kita.

Sebagai hamba Allah tentunya kita sangat ingin bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Namun tidak semua orang memiliki hati yang terbuka untuk itu. Kadangkala masih dilingkupi dengan hawa nafsu sehingga tidak mempunyai keluasan untuk bisa menerima hidayah dari Allah. Lantas bagaimanakah cara kita agar bisa membuat hati kita terbuka menerima hidayah dari Allah? Langkah-langkah apakah yang bisa membuat hati kita bisa terbuka untuk menerima hidayah dari-Nya? Hal itu akan terjawab oleh makalah ini. Dzikir merupakan salah satu cara yang ampuh untuk membuka mata hati setiap insan manusia yang ada di dunia ini.

DZIKIR SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN HATI

A.    Pengertian Dzikir

            Kata dzikir berasal dari bahasa arab yakni berasal dari kata Dzakara-yadzkuru-dzikron yang memiliki arti mengingat (Allah). Adapun makna dzikir menurut istilah adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah dan akan diberikan ganjaran bagi orang yang mau melaksanakannya.[2] Dzikir merupakan ibadah yng sangat efisien, karena ibadah tersebut bisa dilakukan kapan saja dan di manapun saja, bahkan wanita dalam keadaan udzur pun bisa melaksanakan dzikir kapanpun dan juga dimana pun ia berada.

Dzikir juga merupakan salah satu ibadah yang sangat disukai oleh Allah karena dengan berdzikir kita akan selalu mengingat Allah dan Allah pun juga akan selalu mengingat kita. Sebagaimana dalam Alquran, Allah berfirman:

Maka ingatlah kamu akan Aku (Allah), niscaya Aku pun mengingat kamu (QS. Al Baqoroh:152) [3].

B.     Pengertian Hati

Definisi hati menurut imam Al Ghazali terbagi menjadi dua. Yang pertama beliau mengungkapkan bahwa Qolbu (hati) adalah segumpal daging yang terletak di bagian paling dalam, sebelah kiri dada. Ia adalah daging khusus.[4] Adapun pengertian yang kedua, Qolbu (hati) merupakan perasaan atau ruh yang berasal dari Allah yang memiliki hubungan dengan qolbu jasmani.[5] Berdasarkan dari dua pengertian tersebut, pengertian hati yang akan kita bahas adalah merujuk pada pengertian hati yang kedua.

Hati atau perasaan merupakan sesuatu yang bisa mengetahui betul siapa dirinya. Melalui hati akan tersingkap semua kebenaran dan kejahatan yang ada dalam dirinya. Hati juga merupakan organ sentral dari sebuah tindakan yang akan dilakukannya, karena dia adalah raja dari semua anggota tubuh. Melalui hati juga akan tercermin pribadi manusia tersebut, apakah baik atau buruk, hatilah yang menjadi penentu.

Hati juga merupakan tempat perebutan antara malaikat dan syaitan. Begitu iblis tahu bahwa hati merupakan pusat dari semua keinginan, maka iblis berusaha membisikkan hal-hal yang jahat dan menawarkan berbagai macam syahwat yang ada. Sehingga, manusia yang terjebak oleh nafsu, mereka akan menuruti apa kata nafsu mereka dan otomatis jalan lurus menuju Allah akan teralihkan.

Adapun hati menurut jenis-jenisnya tebagi menjadi tiga, antara lain[6]:

1. Hati yang sehat

adalah hati yang bersih dari segala macam syahwat yang dilarang oleh Allah. Semua yang diinginkan oleh hatinya merupakan cerminan dari ibadahnya kepada Allah. Manusia yang memiliki hati yang sehat akan selalu menjadikan amal perbuatannya menjadi bernilai ibadah kepada Allah Swt.

2. Hati yang sakit

adalah hati yang memiliki penyakit, namun penyakit kyang dimaksud bukanlah penyakit yang terlihat secara kasad mata. Namun hanya bisa dilihat dari kacamata rohani. Hati menurut jenis ini mengandung dua aspek cinta. Aspek cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah Swt, beriman pada –Nya, tawakal kepada –Nya, serta menyerukan amal kebaikan dalam setiap tindakannya. Adapun aspek cinta yang kedua adalah aspek cinta kepada syahwat, mengutamakannya serta sangat berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

3. Hati yang mati

adalah  hati yang tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Hati tersebut adalah hati yang tidak kenal dengan siapa Penciptanya, tidak menyembah dan melakukan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Hawa nafsu yang akan menjadi pemimpinnya serta nafsu yang akan menjadi pembimbingnya. Semua hal yang dia lakukan hanyalah berdasarkan nafsu semata.

C.    Manfaat Dzikir Untuk Hati Manusia

Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan apabila kita senantiasa berdzikir kepada Allah. Salah satu diantaranya adalah memperoleh ketenangan dan ketentraman hati.[7] Di dalam berdzikir terdapat obat yang bisa mengobati orang-orang yang merasa gelisah, mengalami keperdihan hidup. Hanya dengan mengingat Allah kita akan tahu siapakah diri kita sebenarnya sehingga kita kita juga akan tahu siapakah Tuhan kita.

Dzikir juga dapat dijadikan sebagai penetralisir berbagai problematika dan melapangkan segala beban jiwa. Sebaliknya kelalaian berdzikir akan membuahkan kegelisahan, kegundahan, kesulitan dan penguasaan diri oleh syaitan.[8] Tidak jarang, ketika manusia berada dalam keadaan lalai dari Allah (Tidak mengingat-Nya), maka manusia tersebut akan mudah tergoda oleh bujukan syaitan dan hatinya akan menjadi tempat bersarangnya keinginan-keinginan dari syahwatnya.

Dzikir dapat dijadikan sebagai penyinar wajah dan hati manusia serta membungkus orang berdzikir dengan kewibawaan dan keluhuran[9]. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ar Ra’d ayat 28:

 

Dzikir dapat menjaga dari sifat munafik dan dapat menghilangkan sifat kerasnya hati. Adapun manfaat lainnya yang juga sangat penting adalah dzikir dapat dijadikan sebagai pemupuk ma’rifat dan cinta kepada Allah Swt.[10] Allah akan selalu menjaga hati setiap insannya yang selalu mengingat dan selalu mengagungkan-Nya. Dalam hatinya tidak ada celah keburukan, bahkan celah kemunafikan, karena hatinya sangat sibuk untuk menyebut nama Allah.

Dzikir dapat memberikan ilham kepada seorang hamba untuk mengucapkan syahadat di saat kematiannya. Ketika dalam keadaan sakaratul maut, tentunya lidah akan merasakan sangat sulit berbicara dan juga akan merasakan kelu yang sangat mendalam. Kebiasaan berdzikir akan membantu seorang hamba dalam menghilangkan kekakuan lisan serta hatinya akn selalu terjaga untuk mengingat Allah Swt.

D.    Langkah-Langkah Dalam Menghidupkan Hati

Berdasarkan  jenis-jenis hati yang telah dipaparkan diatas ada tiga jenis macam hati, yaitu hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Dari ketiga jenis tersebut yang perlu dipermasalahkan adalah mengenai hati yang sakit dan yang mati.

1. Mengobati hati yang sakit

Sebagaimana tubuh yang sakit, kita harus mengobatinya agar sembuh dan sehat kembali. Begitu pula dengan hati yang sakit. Kita harus bsegera mengobatinya agar sakitnya tidak terlalu parah dan segera kembali menjadi sehat. Makna sakit disini tidaklah sama dengan keadaan lahiriah namun bersifat batiniyah. Penyakit yang dialami hati merupakan penyakit yang sangat sulit disembuhkan karena tidak memerlukan penanganan medis melainkan memerlukan sentuhan-sentuhan rohani.

Ada dua macam penyakit hati, yaitu penyakit yang berhubungan dengan anggota badan yaitu syahwat (keinginan) dan penyakit yang berhubungan dengan akal yaitu syubhat (kesamar-samaran).[11] Penyakit ini sangat berbahaya bagi setiap manusia karena penyakit ini tidak jelas keberadaannya, serta manusia tersebut kurang bisa merasakan bagaimanakah hatinya yang sakit.

Untuk mengobati penyakit syubhat adalah selalu mengingat Allah dengan membaca Alquran, karena di dalam Alquran terdapat keterangan dan petunjuk yang bisa membedakan antara kebenaran dengan kebathilan.[12] Untuk mengobati penyakit syahwat maka juga dianjurkan untuk mengingat Allah dengan membaca Alquran, karena di dalam Alquran terdapat hikmah, pelajaran yang baik, anjuran zuhud dan cinta akhirat. Dengan demikian mengingat Allah melalui Alquran dapat menghilangkan penyakit yang mengajak kepada keinginan yang rusak, kemudian hati akan menjadi lurus dan kembali ke fitroh asalnya.

Setelah membaca Alquran tentu orang tersebut dapat membedakan mana yang benar dan yang bathil, selanjutnya hati masih terliputi oleh keadaan yang berbolak-balik. Adapun cara yang ampuh untuk menjaga keseimbangan hati agar tetap menjadi hamba yang  memiliki hati sehat adalah dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah. Karena hanya dengan berdzikir kita bisa selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun.

Dan Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatan mereka”

Perumpamaan hati yang sakit adalah hati yang kadangkala memiliki sifat yang cenderung kepada kebaikan dan kadangkala hati tersebut cenderung pada nafsunya. Karena itu, dengan berdzikir, kita akan selalu ingat pada Allah dan akan terhindar dari kecenderungan untuk menuruti nafsu tersebut.

2. Menghidupkan kembali hati yang mati

Hati yang mati adalah hati yang tidak secara langsung bisa menerima kebenaran yang ada dalam Alquran maupun hadist. Segala hal yang ada dalam hatinya dipenuhi dengan nafsu saja, sehingga keluasan menerima hidayah dari Allah sangatlah sempit. Untuk menghidupkan kembali hati yang mati, tentunya tidak semudah membalikkan tangan, banyak cara-cara yang ditempuh agar hati kembali hidup dan menjalankan fungsinya secara normal.

Cara yang pertama adalah dengan memperbanyak mendengarkan tausiyah maupun ceramah tentang agama. Dengan begitu hati yang mati lama-kelamaan akan timbul berbagai rasa yang mengajak pada kebaikan. Selanjutnya dilanjutkan dengan  membaca Alquran sehingga kita bisa membedakan antara mana yang haq dan yang bathil. Abru setelah itu dengan banyak mengingat Allah secara terus menerus. Dengan mengingat Allah (melalui dzikir), tentu kita tidak akan terpengaruh untuk menuruti kata nafsu dan syaitan. Malah kita akan semakin kuat untuk menghadapi berbagai macam cobaan dan  godaan dari syaitan.

Untuk menjaga agar hati selalu sehat dan tidak mudah terjerumus terhadap hal-hal yang berbau maksiat hendaknya kita harus selalu menjaga pintu-pintu hati. Diantara pintu-pintu hati pada manusia adalah lisan, pendengaran, kedua kaki, kedua tangan, penglihatan, dan pendiuman.[13]

Lisan adalah pintu pertama penentu hati. Jika hati seseorang baik, maka tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut seseorang kecuali hanyalah kebaikan. Untuk menghindari lisan agar tidak membicarakan hal-hal yang buruk maka sibukkan dia dengan dzikir yang hanya bisa mengingatkannya pada Sang Pencipta. Hanya dengan itulah lisan bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

Pendengaran merupakan pintu hati yang kedua yang harus dijaga. Seseorang hendaknya mendengarkan hal-hal yang baik-baik saja dan menghindari suara-suara yang dapat menjerumuskan kita dalam keburukan. Lebih baik mendengarkan suara yang baik, jika tidak bisa maka akan lebih baik pula mencari ketenangan daripada mendengarkan hal-hal yang buruk. Adapun kedua kaki merupakan pintu hati yang ketiga. Kedua kaki digunakan untuk menjalankan perintah hati. Hendaknya kita selalu melangkahkan kaki kita hanya meuju ke arah kebaikan.

Kedua tangan merupakan pintu keempat hati. Disinilah peran segala aktivitas yang melaksanakan adalah tangan. Hati yang menyuruh tangan agar melaksanakan perntahnya. Hendaknya kita selalu menjaga tangan kita untuk melakukan perbuatan yang baik saja. Adapun penglihatan merupakan pintu hati yang kelima. Penglihatan adalah kunci dari segala yang terwujud oleh hati. Manakala hati kita sedih maka mata kita juga merasakan kepedihan dan mengeluarkan air mata sebagai luapan gambaran yang dirasakan hati. Hal yang sebaiknya dilihat oleh mata adalah segala hal yang mengandung unsur kebaikan saja.

Segala hal yang kita lakukan hendaknya berdasarkan niat untuk ibadah, manakala hati kita sudah mantap maka segala apa yang kita lakukan akan terasa mudah  untuk dilaksanakan.

SIMPULAN

            Berdzikir merupakan salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara itu pula semakin kita dekat dengan Allah maka hati kita akan terasa tentram. Ketenangan hati dapat kita raih selama kita selalu berada dalam keadaan yang tenang dan saat merasa aman.

Dzikir juga merupakan salah satu cara hemat dalam melakukan penjernihah hati. Bagaimana tidak, dzikir bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apapun juga. Dzikir senantiasa menjadikan kita semakin insyaf dan mengangungkan kebesaran-Nya. Kita juga bisa terhindar dari perbuatan tercela seperti menggunjing dalam hati maupun penyaki-penyakit hati yang lainnya.

Dzikir merupakan  sarana dan alat yang tepat untuk menghidupkan hati. Penyembuh untuk hati yang sakit serta sebagai penghidup untuk hati yang telah mati. Baik dzikir maupun ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah Swt., agar hasilnya maksimal serta hati dan diri kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Dengan begitu hati akan semakin tenang dan suasana hati akan terasa tentram.


[1] Khalid Abu Syadi, Periksalah Hati Anda, (Surakarta: Insan Kamil, 2008), 13

[2] Amru Khaled, The power of Dzikir, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 29

[3] Muhammad Al Baqir, Rahasia Dzikir dan Doa, (Bandung: Karisma, 1998), 13

[4] Khaled, The Power of Dzikir, 10

[5] Ibid

[6] Fadhli Bahri, Keajaiban Hati, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), 17

[7] Khaled, The True Power of Dzikir, 34

[8] Ibid., 35

[9] Ibid., 57

[10] Ibid., 58

[11] Syadi, Periksalah Hati Anda, 149

[12] Bahri,  Keajaiban Hati,  75

[13] Syadi, Periksalah Hati Anda, 233

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s